close

Sabang itu “janda.”

Saya tahu itu.

Kalau pun gak dikasih tahu seperti “share” teman di pagi kemarin itu  saya pun sudah tahu. Tahunya pun sejak dulu. Sudah sejak lama.

Itu menyebabkan share sang teman terasa hambar walupun kata yang menyertai menohok sekaligus menggoda. Dan ini isian  kata-katanya di share whatsapp yang ia kirim: pemping bikin sabang tetap menjanda.

Saya gak perlu tertawa masam atau cemberut dengan share sepertiga lucu itu. Kalau pun  dikemas dengan kalimat yang tiga perempatnya lucu belum tentu bikin saya tertawa masam

Saya tahu kenapa ia mengirim tentang pulau pemping yang disangkut sengkarutkan dengan sabang. Ashbab nya saya dan dia satu trah: jurnalis. Jurnalis tipikal sol sepatu.

Jurnalis sol sepatu itu, dulunya, adalah penabalan untuk manusia jurnalis di kelompok kerja saya dan dia.  Penabalan itu sebagai pembeda dengan jurnalis lima w + satu h.

Saya tahu ia ingin membangkitkan batang terendam memori kebersamaan saya dan dia.

Memori ketika meliput sabang habis-habis-an usai ia diceraikan untuk kesekian kalinya lewat pembatalan undang-undang tentang pelabuhan dan perdagangan bebas. Lantas bertatus janda

Pembatalan yang ashbabnya rekayasa politik kepentingan. Sabang didakwa sebagai penyebab terjadinya penyeludupan usai sebuah kapal bernama “accress” di tangkap di ujung jambo aye.

Accress yang di ke belawan dan didakwa tak memiliki kelengkapan dokumen membawa barang-barang pecah belah, rokok dunhill dan kain seprei dan sarung ke sabang.

Padahal km accress sendiri sudah puluhan kali menjalani rute itu dengan barang yang sama di palkanya.

Inilah pokok pangkal sabang dipaksa cerai oleh otoritas jakarta saat itu. Dan ini pula yang menjadi biang sang teman mengirim forwad dalam bentuk share berita pulau pemping ke saya.

Saya tahu, dengan berita pulau pemping itu ia coba memancing saya keluar dari persembunyian. Keluar goa untuk menulis kembali tentang sabang. Sabang yang janda itu.

Yang saya dan dia sempat dituduh sebagai dalang  perceraian sabang dengan status bebasnya

Saya memang terpancing untuk menulis sabang lagi. Hari ini. Setelah gak dilamar sebagai kilang minyak yang akan di bangun oleh pemain baru di peta investasi negeri ini.

Kilang minyak untuk kebutuhan bahan bakar dalam negeri. Kilang minyak usai terbongkarnya kusut masai bisnis perminyakan yang menyeret banyak pemain.

Pemin yang memainkan lakon bisnis  dari hulu sampai ke hilir.

Selain menggring saya keluar kandang ada keyakinan lain dengan ocehannya itu. Ia  ingin menguji saya apakah masih terampil menyusun kata untuk mengembalikan kenangannya secara gratis tentang sabang.. entahlah….

Saya tahu, dulunya ia pernah merasa kalah dalam menulis sabang yang janda itu. Kalah dalam narasi. Kalah juga dalam menuai pujian.

Tapi, karena era itu eleganitas masih dikedepankan ia harus  memuji investigasi saya tentang sabang sebagai sarang penyamun usai kasus km accres. Investigasi terbaik yang pernah saya torehkan.

Dan tulisan di media prestise itu dijadikan titik balik eksistensi sabang sebagai pelabuhan dan perdagangan bebas.

Jujur saja, sebenarnya, investigasi  itu menyebabkan saya ambivalen.

Bersikap mendua antara kebanggaan sebagai jurnalis investigasi dengan kesedihan panjang atas :dosa” yang menyebabkan sabang jadi paria. Melata setelah undang-undang keberadaannya di cabut

Kini saya bukan lagi jurnalis sol sepatu. Hanya jurnalis imajinasi sehingga gak banyak tahu kenapa pemping, pulau sepelemparan batu dari singapura, bikin sabang harus tetap menjanda.

Saya hanya bisa mencaritahu. Lewat ..katanya… dan katanya. Katanya, pemilihan pemping untuk lokasi pembangunan kilang bahan bakar minyak yang baru sudah tepat.

Bukan di sabang atau tempat lainnya.

Katanya, pulau pemping lebih dekat ke singapura daripada ke daerah induknya, batam  Luasannya pun pas: seratus enam puluh kilometer bujur sangkar

Kalau dari sisi ukuran pulaunya pun sudah pas. dengan luasan bentangan  sekitar sepuluh kali lima belas kilometer  Penduduknya?

Hanya seribuan orang.

Ada yang lebih penting kenapa pemping lokasi yang tepat. Keputusan itu sekalian untuk pertahanan negara. Agar eksistensi indonesia di kawasan itu kian kuat.

Saya tahu daleh itu. Dulunya penetapan batam sebagai kawasan perdagangan bebas juga begitu. Bahkan batam dulunya mendapat status tinggi dengan nama otorita.

Langsung di bawah kendali istana. Seperti otoritas ibu kota nusantara hari ini. Otorita batam yang sengkarut. Seperti juga sengkarut ibu kota negara hari-hari ini….semoga saja..

Untuk memberi pengesahan sabang sebagai janda itu pemping di rekayasa secara naratif.  Logistik  posisi pulau pemping juga tepat: di jalur pelayaran kapal-kapal besar.

Dari sini saya sudah tahu dalehnya.

Lantas apa yang kurang dari sabang. Seorang teman lain setelah saya kirim tentang pemping mengatakan, “ Tentu sabang juga lokasi yang sangat tepat.”

Sudah punya pelabuhan yang besar dan dalam. Juga di jalur pelayaran internasional.

Lantas?

Dibikinlah alasan lain. Membangun kilang besar di pemping memudahkan  crude dari dubai atau qatar akan langsung ke situ. Efisien. Bisa menggunakan tanker raksasa.

Bersamaan dengan itu akan dibangun tangki-tangki untuk menampung crude. Cukup untuk membangun tangki-tangki minyak mentah. Lalu dihubungkan dengan pipa bawah laut.

Tentang pembangunan kilang baru yang akan menghabiskan dana lebih seratus triliun rupiah saya gak perlu tahu

Sampai di sini saya langsung ber..hahaha…Ber.hahahah tentang sabang yang sudah beberapa kali bersatud janda yang kawin cerai.

Dari bule holand, si mata sipit japanese yang sampai ini hari ditelantarkan pemilik tanah merdeka….

Sebelum menjanda ia memiliki akad yang banyak. Dari yang namanya perpres. pe-pe sampai undang-undang . Tapi peruntungannya tak berubah.

Makanya dalam ngakak tentang sebutan janda itu sejak dulumya saya sudah tahu. Sejak era kp4bs.  Era komando. Komando pelaksana pembangunan proyek pelabuhan bebas sabang

Pengesahannya lewat sebuah perpres. Peraturan presiden nomor dua puluh tahun seribu sembilan enam puluh empat. Bagi kala itu mungkin masih di arash. Di jabal langit

Di era kp4bs itulah sabang paling heboh. Heboh di bawah ketiak republik. Kp4bs yang status komandonya di bawah pangti.

Tak banyak orang yang tahu akronim pangti itu. Panglima tertinggi. Sebuah jabatan yang gak ada di saentero donya. Yang cuma ada di negeri antah berantah ini.

Di era itulah lahir akronim jengek. Jenggo ekonomi. Sebutan ketika saya mulai memilih jalan menulis. Jurnalis papan bawah. Ecek-ecek.

Jurnalis yang sembari menyelam minum air. Minum air dari dagang pecah belah hingga sarung pelekat. Jurnalis yang juga ketiban rezeki mobil bekas bodong dengan pelat berseri na…

Hingga sekarang saya gak tahu dari lapis langit berapa sebutan jengek itu lahir. Sudah mencarinya kemana-kemana. Gak ada “lelaki” yang menghamilinya tapi ia lahir dari kandungan premature.

Yang saya tahu jengek itu sering diplesetkan sebagai “jango” ekonomi. Mungkin saja istilah ini terpengaruh oleh film “jango” yang ngetren di era itu. Film heroik bagaimana hukum di kemplang.

Saya punya alasan yang sangat kuat untuk menyebut sabang janda kembang. Ia dilirik banyak investor tapi gak pernah di pinang. Banyak yang melirik, menggoda tapi gak pernah mau meminangnya.

Saya sendiri pernah menjadi bagian dari sabang yang bukan janda di tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh. Ketika sabang jadi isteri lewat regulasi

Sebagai daerah perdagangan bebas dan pelabuhan bebas melalui undang-undang.

Tahun delapan puluh lima sabang jadi janda. Pelabuhan bebas sabang di tutup karena pembukaan kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas batam

Diusulkan kembali tahun sembilan puluh tiga dengan nama baru untuk pengembangan ekonomi melalui kerja sama imt gt

Dan untuk mengenang sabang sebagai pelabhuan bebas saya kutipkan tulisan seorang wartawan yang tinggal di Batavia. Nama jakarta di zaman kolonial

a menulis  laporan perjalanannya dari batavia ke amsterdam nun jauh di benua biru sana

Dia  adalah adi negoro.

Dalam buku melawat ke barat salah satu episodenya ia bercerirta tentang persinggahannya di macam-macam kota. salah satunya sabang.

Laporannya memikat karena Adi negoro menggabungkan cerita sehari-hari dengan acuan berbagai bacaan klasik, dari antropologi hingga theologi, dari sejarah hingga filsafat.

Salah satu tempat pemberhentiannya adalah pelabuhan sabang di pulau weh, di ujung Sumatra

Ia menulis tentang persinggahan kapal tambora  untuk mengisi bahan bakar batubara. Adi negoro berkeliling sabang

Ia membandingkan sabang dengan Singapura yang kala itu  milik inggris yang baru saja disinggahinya.

“Tapi kalau menilik kepada pelabuhan saja, sabang lebih bagus. Hanya perkara letaknya saja kurang baik.”

Lanjutnya,” biarpun pemerintah belanda menjadikan sabang satu pelabuhan bebas, tiadalah akan seramai singapura, sebab letaknya jauh dari pusat perdagangan di asia timur.”

Dia juga menulis sedikit sejarah Sabang.

Menurutnya belanda menguasai sabang di awal perang aceh. Dan memberi nama dengan “sabang Maatschappij.

Sebuah kongsi perusahaan swasta, diberi wewenang untuk mengelola pelabuhan bebas tersebut, sekaligus membangun dermaganya di akhir abad hingga awal abad berikutnya.

Pelabuhan yanga dilengkapi dengan dok perbaikan kapal seberat dua ribu enam ratus  ton. Selain itu  punya empat derek raksasa untuk menaikkan batubara ke kapal-kapal yang berhenti

Kapal-kapal yang datang dari eropa, cina, jepang, singapura, batavia, dan sebagainya.

Di awal tahun dua puluhan abad itu, perusahaan ini membangun dok lagi, seberat lima ribu ton, untuk meningkatkan kapasitas perbaikan kapal.

Tulisan melebar ke reportase tentang penghuni sabang terutama sekali karena pelabuhan itu.kampung tionghoa dekat pelabuhan itu penuh dengan toko-toko dan warung-warung makanan.

Di belakang tempat membongkar batubara adalah tangsi kuli. Di tepi laut berdiri kantor-kantor maskapai kapal rotterdamsche llyod dan maatschappy nederland.

Apa yang tak diungkap buku itu adalah Sabang sebagai bagian dari aceh –sebuah wilayah yang melawan pendudukan belanda tahun yang panjang

Belanda membangun sabang bukan hanya karena minat dagang tapi juga untuk menjinakkan orang aceh. Entah mengapa tentang ini si wartawan hebat itu  tak menyentuhnya.

Saya mengamini adi negoro ini. Amin terhadap posisi dan nasib sabang. Sabang untuk menjinakkan orang aceh dalam pesta korupsi yang bertali temali………..

“Atjeh moorden” yang kini gila memakan riba anggaran…

Tags : slide