close
Nuganomics

“Kwiknomics”

Saya tahu ia bukan hanya ekonom. Ia adalah nurani yang hidup dalam sistem yang sering kali membunuh nurani. Seperti para ekonom hari ini. Di banyak entitas. Akademisi atau peneliti.

Saya juga tahu ia adalah suara bening dalam ruang yang kian bising oleh kompromi dan kepentingan.

Lebih dari itu, ia meninggalkan pertanyaan besar: siapa kini yang masih bersedia berkata tidak ketika sistem menuntut semua untuk berkata ya.

Saya  tahu sejak awal, ia memilih jalan yang berbeda. Ia tidak membangun ekonomi dalam angka-angka semata. Ia membacanya sebagai medan etika.

Kehidupannya mendefinisikan ulang arti menjadi seorang nasionalis dan seorang indonesia.

Ia tidak tertarik dengan pidato berapi api, yg penuh gambaran kejayaan, kebesaran dan kebanggaan.

Ia tidak pernah menepuk dada dan memberitahu orang, betapa nasionalis dirinya. Baginya sikap itu bukanlah  jiwa dan raga seorang nasionalisme sejati.

Baginya sikap seperti itu adalah  sandiwara politik. Sirkus. Dan kawe.

Yang saya maksud dengan ia itu adalah kwik kian gie. Kwik-panggilannya sehari-harinya- yang pergi di usianya: sembilan puluh tahun. Usia sepuh. Yang gak sepuh adalah sikapnya.

Hari saya menulis ini sepekan sudah ia “pergi.” Di hari senin lalu..

Kwik saya kenal lewat jurnal dan opininya yang beranak pinak. Di banyak media mainstream prestise. Yang bahasannya mencerminkan nasionalisme tulen yang tidak perlu diragukan lagi.

Tulisannya di kompas setiap senin yang editornya bro saya abun sanda, tanpa kompromi bersiung mengkritik tingkah laku konglomerat hitam.

Saya mengenalnya dari jauh. Sayup-sayup. Setelah pulang dari studi di belanda pada awal tahun tujuh puluhan. Ketika saya menjadi reporter disebuah majalah berita.

Saya tahu ia menyiapkan diri untuk mapan dengan memimpin lembaga keuangan nonbank. Indonesia financing & investment coy. Membuka usaha pengelolaan perkebunan

Dan mendirikan perusahaan distribusi elektronik. Altron panorama electronics. Ia juga tercatat aktif di berbagai perusahaan hingga akhir delapan puluhan

Itu semua dilakukannya sebelum beralih total ke dunia pendidikan dan politik. Total. Gak ada balik belakang,

Langkahnya ini merupakan saran kakaknya. Saran untuk mengambil jalan pintas membangun negeri ini: dengan ekonomi.

Memang langkah ini, di hari-hari ini, gak sepenuhnya benar. Anda mau ekonom  strata empat  pun.dasarnya  hanya satu: hukum yang tegak  Entah  itu hukum ekonomi atau hukum pidana.

Kan hari ini ekonomi moncer. Tapi koruptorpun moncer. Padahal hukum tidak berani kepada penguasa dan orang kaya.

Ingat saja ketika reformasi didebah orang kaya sekali bawa duitnya keluar. Rakyat mau beli beras saja susah

Dua puluh tujuh tahun usai reformasi beras banyak tetapi rakyat jelata tak mampu beli. Ekonom hebat banyak. Di mana mereka dengan solusinya.

Anda sudah tahu yang ada.utang lagi dan lagi. Kalau soal utang kan gak perlu strata tiga Cukup dengan ijazah pasar pramuka saja. Untuk apa punya gelar berjibun .

Itulah potret ril kita saat ini. Maju tetapi semu. Kelihatan bahagia tetapi banyak utang. Cobalah kita jujur. Makan beras mahal?

Ingat sebagian besar buruh tani gak pernah mengecap beras itu. Padahal dia yang menanamnya. Ini kesalahan pemimpin kita. Nyaman di atas.

Tunjukkan dengan saya, mana mau turun ke bawah. Tokoh agama yang seharusnya menjadi penengah antara yang elit dan alit. Malah bergaya jetset. Inilah salah pemimpin agama

Maaf banyak kencongnya… Yang lurusnya coba anda cari sendiri.

Bagi saya sebagai seorang bermazhab “kwiknomic”  cara berpikir kwik kian gie soal ekonomi lebih mirip pendekatan guangdong ketimbang berkeley ala trump

“Kwiknomic” menekankan kemandirian ekonomi, peran aktif negara, dan kontrol ketat atas aset strategis.

Suaranya beda dengan cina lain di negeri ini. Ia sering dituding sebagai “cina koopig”..dalam pelafalan: kop-pekh. “Keras kepala”

Ia menolak utang luar negeri berlebihan dan curiga pada privatisasi asal-asalan—menilai itu bisa membuat bangsa jadi “jongos di negeri sendiri”.

Ia punya model sendiri dan ia percaya negara harus mengarahkan ekonomi, bukan sekadar jadi wasit. Badan usaha negara baginya bukan beban, tapi alat kedaulatan ekonomi.

Itu yang membedakan dengan mafia berkeley— dulunya. Yang menganut prinsip pasar bebas: Swastanisasi, deregulasi, dan utang luar negeri sebagai mesin pertumbuhan.

Pak Kwik berbeda. Ia nasionalis sejati, berani menolak arus besar jika membahayakan rakyat kecil. Ia tidak anti asing, tapi anti dijajah model baru.

Dalam hal ini, kwiknomics adalah jalan tengah yang waras:  Rasional tapi berpihak.  Logis tapi tetap punya nurani.

Maaf hari ini tulisan saya tampil bak jurnal pengamat ekonomi. Ekonom. Padahal saya hanya seorang horeg. Penggembira yang mengembara…

Kembali ke seorang kwik. ia nyaris tidak pernah menciptakan jarak antara dirinya dan rakyat. Ia tetap hadir sebagai suara yang mengingatkan.

Ya seperti sayalah pengamat pulau kapuk. Yang setuju dengan pertumbuhan tanpa keadilan bukanlah pembangunan, dan kekuasaan tanpa keberpihakan hanyalah ketidakpedulian.

Dan ketidak peduliannya sebagai pembangkang yang tegak lurus  sendirian menentang kebijakan yang  menguntungkan konglomerat pelanggar hukum.

Disetiap debat iIa tahu dirinya kalah suara, bahkan merasa seperti dihantam dengan “total football”. Namun, ia tidak menyerah.

Dalam pengakuan yang langka di pelataran politik ia sering memilih diam. Itu bukan karena setuju, tapi karena tahu bahwa kekuasaan sudah bulat memihak pada arus yang ia tolak.

Ia adalah cermin dari karakter koopig  yang konsisten: bahwa jabatan bukan alasan untuk mengingkari nurani.

Di saat para teknokrat mulai sibuk menjahit angka-angka demi melayani kreditor asing, ia tetap pada prinsip ekonomi harus menjadi alat kedaulatan, bukan instrumen penaklukan.

Dalam banyak tulisannya, ia mengecam liberalisasi ekonomi pascareformasi sebagai bentuk baru dari penjajahan.

Yang membedakannya dengan ekonom teknokratis lainnya adalah bahwa ia tak pernah percaya pada netralitas ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi itu harus memihak,

Ia tahu bahwa kebijakan ekonomi tidak lahir dari ruang hampa, tetapi dari lobi, tekanan, dan—sering kali—pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat kecil.

Seperti yang saya kutip dari tutur seorang teman eknom yang kagum dengan kwik, ia memandang struktur fiskal, utang luar negeri, hingga sistem pajak sebagai arena di mana ideologi bekerja.

Dan dalam arena itu, ia memilih berpihak. Tanpa malu-malu, tanpa perhitungan karier. Ia berdiri, bahkan ketika berdiri berarti sendirian.

Konsistensi inilah yang membuat seorang cina koopig ini dihormati dilintasan spektrum politik.

Meski  pernah  sebagai kader utama sebuah partai tengah, ia tidak segan mengkritik arah partai ketika mulai menjauh dari visi kerakyatan.

Banyak orang yang mengejeknya di hari-hari sebelum ia berpulang ketika sempat menjadi  penasihat presiden hari ini itu bukan berati ia berubah haluan

Itu karena ia percaya bahwa kebenaran tidak mengenal garis partai. Ia bersedia berdialog dengan siapa pun—asal itu untuk kebaikan bangsa.

Dalam dunia politik yang miskin integritas, sikap ini menjadi pengecualian yang semakin langka.

Bagi saya warisan kwik adalah cara berpikirnya. Menjadi ekonom bukan berarti berhenti menjadi manusia. Jadi pejabat publik gak boleh jadi bagian dari kebungkaman kolektif.

Dan ia menunjukkan, dengan tubuhnya sendiri, bahwa prinsip tidak selalu kalah dalam sistem yang korup. Ia mungkin kalah dalam forum, tetapi ia menang dalam sejarah.

Seperti ditulis seorang teman saya yang old jurnalis dalam sebuah obituari yang lain kwik menikmati hidup hari tuanya dengan pilihan non kemewahan.

Ia tetap menulis, berbicara, mengkritik. Ia memanfaatkan kanal-kanal media sosial untuk menyampaikan pandangan, mengisi forum-forum akademik dan publik dengan suara yang tak pernah lelah mempertanyakan arah kebijakan negara.

Ia mengkritik utang luar negeri, proyek-proyek infrastruktur tanpa studi kelayakan, hingga sistem pajak yang melukai keadilan sosial.

Ia tidak takut dianggap usang, tidak gentar disebut pesimis. Sebab baginya, intelektual tidak diciptakan untuk memanjakan kekuasaan, melainkan untuk menjaganya agar tidak tersesat.

Dalam era ketika suara intelektual semakin dibungkam oleh kalkulasi politik dan logika algoritma media sosial, ia tetap pengingat bahwa ada jalan lain.

Jalan sunyi yang mungkin tidak populer, tapi jujur. Jalan yang mungkin tidak membawa kekayaan, tapi membawa ketenangan hati.

Saya gak gan ingin meratapi kematiannya. Saya dalam tulisan ini hanya ingin mengingat kita sedang kehilangan satu sumbu akal sehat dalam percakapan publik yang makin gaduh.

Ia akan datang sebagai pengingat bahwa keberanian untuk berpikir berbeda, dan kesediaan untuk membayar harga atas keyakinan itu, adalah inti dari eksistensi

Kepada seorang teman pagi tadi saya saling bertukar kata ia akan terus dikenang bukan hanya sebagai ekonom, tapi sebagai guru kehidupan. Ia akan terus hidup sebagai panutan nurani.

Dan di tengah bangsa yang terus bergulat dengan paradoks antara pembangunan dan keadilan, antara pertumbuhan dan kerentanan, warisan pikirannya mungkin terus relevan.

Thanks Pak Kwik…..

Tags : slide