close
Nuga Forum

“Today” Mamdani

Sepekan usai pemilihan walikota new york media negeri adi daya itu masih pesta berita.

Us today dalam laporan terbarunya menyebut kemenangan zohran mamdani sebagai angsa hitam bertelur putih.

Dalam analisanya yang panjang, nyaris seperti ramalan, today, begitu media raksasa milik new york itu disapa, mamdani  diramalkan akan membuat trump seperti lame duck “bebek lumpuh.”

Ia memang tidak bisa menumbangkan donald si bebek itu. Tapi bisa mengubah peta politik negeri itu tahun depan saat dilaksanakan pemilu legislative.

Saya mafhum tentang algoritma angsa hitam itu di sana. Setuju dengan tulisan today. Ini yang membedakannya dengan negeri Konoha.

Negeri yang paling banyak mencari kambing hitam. Scapegoat atau black sheep. Scapegoat dimana seekor kambing dikirim ke padang gurun untuk menanggung dosa orang lain.

Begitu juga dengan black sheep yang digunakan untuk anggota keluarga yang berbeda dan berperilaku buruk, tidak sejalan dengan yang lain.

Nah…bisa jadi, kata ramalan us today, wabah “mamdani” akan membuat partai demokrat menguasai kongres. Saat itulah trump jadi bebek lumpuh. Lalu disembelih lewat impeachment

Anda tahu apa itu impeachment?  Pemkzulan. Pemberhentian. Lewat mosi tidak percaya di kongres. Yang kalau di negeri ini disebut dengan majelis permusyawaratan rakyat. Em-pe-er.

Dan anggota kongres itu terdiri dari house reprepresentative dan senator. Anggota de-pe-er dan de-pe-de.

Impeachment terakhir di negeri paman sam itu dialami oleh presiden richard nixon dari partai republik.

Pemakzulan ini terkenal dengan kasus watergate/ kasus pintu air. Kecurangan pemilihan presiden. Dan cerita utuhnya difilmkan lewat judul “all the president’s men.”

All the president’s men adalah film thriller politik biografi tentang skandal  watergate yang menjatuhkan jabatan presiden.

All the president’s men semula adalah buku non-fiksi karya carl bernstein dan bob boodward, dua jurnalis yang menyelidiki dan skandal politik yang diakibatkannya untuk koran the washington post.

Selanjutnya today, yang saya kutip laporannya subuh tadi, memberi aplaus untuk Mamdani yang terpilih setelah melewati hadangan  gelombang tuduhan dahsyat.

Kota yang biasanya hanya “kalah” oleh dirinya sendiri, hari itu memilih untuk mencatat sejarah dengan huruf tebal dan sedikit tinta dramatis.

Mamdani mampu melewati perjalanan yang penuh sikutan, manuver tajam, dan debat yang kadang lebih panas daripada uap subway di musim panas, dengan sebuah kemenangan.

Rasanya seperti tiupan terompet panjang. Sebagian warga bersorak, sebagian mengelus dada, dan sebagian lain mengunggah status sok netral: “Demokrasi telah berbicara.”

Mamdani kini mengukuhkan dirinya sebagai bintang baru sekaligus sosok yang bikin partainya sendiri menggaruk kepala.

Demokrat merayakannya seperti pesta kecil yang tiba-tiba berubah menjadi konser besar, sementara republik langsung mendapat musuh ideal menjelang pemilu tengah periode.

New york kini punya walikota yang paham harga sewa apartemen!” Mereka tak peduli segala macam ancaman siapapun yang gemar menyiram bensin ke percakapan publik.

Sebaga wali kota ia mengidentifikasi dirinya sebagai demokrat sosialis. Identifikasi ini yang membuat lawannya menuduhnya komunis.

Publik tampaknya lebih percaya masa depan kota ini diserahkan kepada seorang aktivis-politisi yang membawa pesan sederhana: “Kota ini harus bisa ditinggali, bukan hanya dipamerkan.”

Mamdani ingin mengembalikan kota yang dibangun oleh keringat imigran, dibesarkan para pekerja keras ke pelukan pemilik sejatinya.

Mengambilnya kembali dari segelintir miliarder yang gemar membeli gedung setinggi ego mereka.

Saya tak tahu bagaimana reaksi wall street. Mungkin biasa-biasa saja, atau barangkali mereka sedang menggelar rapat darurat mempertanyakan apakah kapitalisme masih aman bila walikota datang.

Dalam narasi publik, kemenangan Mamdani tampak seperti adegan film indie yang tiba-tiba mendapat slot di bioskop besar: tanpa efek ce-ge-i, tetapi emosinya telak.

Bagaimana mungkin seorang assembly member yang dulu hanya dikenal di beberapa distrik bisa menjungkirbalikkan seorang para endorsement dari tokoh politik paling berisik?

Dramatisasinya bahkan lebih absurd dari telenovela. Pada titik itu warga menoleh ke kanan-kiri sambil berbisik, “Lho, ini plot twist apa prank politik?”

Saya telah menulis sebelumnya kemenangan sang imigran bukan sekadar soal identitas. Ia bukan dipilih karena muslim, bukan karena sosialis, dan bukan karena wajahnya yang humble.

Bukan juga karena ia rajin blusukan ke gereja dan klub malam. Ia dipilih karena janji paling sederhana tetapi paling mahal di kota metropolitan: membuat hidup sedikit lebih terjangkau.

Di kota yang harga sewanya bisa membuat orang relijius tiba-tiba rajin membaca doa penjagaan rezeki, pesan itu terdengar seperti air zamzam bagi jiwa-jiwa kering kantong.

Hanya di kota itu seseorang bisa menyatukan begitu banyak kubu dengan modal senyum, sepatu nyaman, dan kebijakan publik yang tidak memihak gedung pencakar langit.

Kini, setelah terpilih, orang-orang mulai menyapanya di jalan seperti tetangga lama yang baik hati: ada yang minta selfie, ada yang minta tanda tangan.

Adapula yang minta kebijakan murah-murah—pertanda ia dicintai atau minimal dianggap punya peluang membuat harga hidup lebih manusiawi.

Ia akan menjadi sebuah cermin besar: bahwa kota sebesar ini masih percaya pada nilai kecil namun penting —keadilan, keberanian, dan kesediaan untuk tidak menjual prinsip demi kursi.

Kota yang dulu pernah mengawasi masjid-masjid secara massal kini dipimpin seorang muslim. Ironi? Tentu. Mengharukan? Sangat.

Seakan kota itu berkata, “Kami belajar dari masa lalu. Kini kami pilih jalan yang lebih waras.”

Akan ada banyak analisis, banyak debat, dan sejumlah cuitan panjang menyusul kemenangan ini.

Tapi pelajaran utamanya sederhana: dalam politik, siapa pun bisa jatuh, siapa pun bisa bangkit, dan siapa pun yang dulu tidak diperhitungkan justru bisa menjadi pemenang demokrasi.

Suara rakyat —ketika sudah sepakat— lebih nyaring daripada sirene polisi dan lebih tajam daripada kritik editorial.

Dan mungkin, di sela kesibukan mengatur kota yang tidak pernah tidur, Mamdani akan mengingat bahwa kemenangan adalah ujian.

Mampukah ia memimpin kota yang warganya cerewet, politiknya riuh, gedungnya tinggi, dan harapan rakyatnya jauh lebih tinggi?

Mamdani sudah melewati fase karaguan tentang ketidak layakan menjabat karena meragukan status kewarganegaraannya. Ada yang meminta penyelidikan atas proses naturalisasimya

Bahkan ada yang menyerukan pencabutan kewarganegaraan dan deportasi dengan tuduhan bahwa ia mendukung komunisme dan aktivitas terorisme.

Trump sendiri mengancam akan menahan dana federal untuk new York jika anak imigran itu menang, serta menuduhnya sebagai komunis.

“Kota besar itu berada di tepi jurang dipimpin oleh seorang komunis yang secara terbuka memeluk ideologi teroris,” katanya.

“Para barbar tidak lagi di gerbang, mereka sudah di dalam. Mamdani, yang baru pindah ke sini delapan tahun lalu, adalah contohnya,” katanya seperti di kutip today.

Sebuah laporan yang validitasnya meyakinkan dan menjadi pemeriksaan fakta dari politifact, tidak ada bukti yang menunjukkan Mamdani berbohong dalam aplikasi kewarganegaraannya.

Lahir di uganda dan pindah ke negeri paman sam itu diusia tujuh tahun ia resmi menjadi warga negara tujuh tahun lalu.

Berdasarkan hukum imigrasi, seseorang umumnya harus tinggal terus-menerus di negara itu selama lima tahun sebagai penduduk tetap untuk memperoleh kewarganegaraan.

Atau pun tiga tahun bila menikah dengan warga negara amerika serikat.

Proses pencabutan kewarganegaraan di Amerika, atau denaturalisation, hanya dapat dilakukan melalui perintah pengadilan dan selama ini diterapkan secara terbatas

Terlepas dari serangan terhadap kemenangannya salah satu alasan utama keunggulan Mamdani memenangkan pemilihan adalah kepekaannya terhadap isu sentral di kota dunia itu.

Biaya hidup yang semakin mencekik. Ia menyoroti mahalnya isu perumahan, pengasuhan anak, layanan publik, dan kebutuhan dasar. Dan gak ada isu em-be-ge. Isu negeri miskin…

Dengan slogan kampanye “pembekuan sewa, bus gratis, dan jaminan anak universal,” Mamdani menawarkan solusi konkret untuk meringankan beban warga kota.

Kampanyenya yang berbasis pada isu kesejahteraan membuatnya berbeda dari pesaingnya yang dianggap terlalu dekat dengan elit politik dan bisnis.

“Zohran menang dengan agenda kelas pekerja yang tanpa penyesalan,” kutip today.

Mamdani menebarkan isu yang  ditopang oleh pendekatan akar rumput yang kuat. Ia membangun kepercayaan dengan komunitas muslim dan pekerja imigran melalui dialog langsung

Kampanyenya dimulai lebih awal di luar kuil, masjid, dan acara budayanya.

Mamdani tidak bergantung pada sumbangan besar dari pengusaha, melainkan tenaga relawan dan partisipasi publik.

Dengan sembilan puluh ribu relawan dan target tiga juta pintu yang diketuk, timnya menjadikan kampanye ini sebagai gerakan sosial. “Ia gak terikat dengan miliarder, karena berbasis akar rumput” .

Selain substansi, karisma pribadi dan kehadirannya di media sosial turut memperkuat daya tariknya.

Gaya komunikasinya yang lugas, dibalut empati dan kesederhanaan, menjadikannya figur yang relatable bagi pemilih muda.

“Orang-orang menyoroti karisma dan media sosialnya, tapi pesannya tentang keterjangkauanlah yang paling kuat,” ujar analis politik Ross Barkan kepada USA Today.

Ia menegaskan komitmennya untuk membangun hubungan lintas agama dan etnis. Dengan gaya kepemimpinan yang terbuka,

Mamdani menegaskan bahwa perubahan bisa dimulai dari kota, dengan keberanian untuk berpihak pada rakyat kecil.

Saya ingin mengingatkan siapapun tentang kekuasaan. Ia bukan sekadar panggung glamor. Ia, kekuasaan, adalah sumur renungan.

Dari sanalah setiap pemimpin menimba kebijaksanaan, dan dari sanalah kita belajar bahwa perubahan besar kadang datang dari mereka yang dulu dianggap tidak cukup besar.

Terima kasih Mamdani….

Tags : slide