Handphone telah membunuh cabang ilmu reportase dalam jurnalisme?
Mungkin…!!!
Saya sulit menjawab ketika pertanyaan itu datang. Hanya bisa merasakan lantas penasaran tentang banyak pembaca yang tak terpuaskan oleh sebuah nama dari cabang jurnalistik: reportase.
Mungkin Anda juga merasakan ketika banyak yang lainnya tidak terlalu peduli dengan itu Juga tidak mau mempersoalkan apalagi untuk mengejar jawabannya.
Jurnalis gak perlu lagi datang melakukan reportase ke tempat peristiwa. Wawancara lewat henpon lanjut mengolah berita dari media lain terus dijadikan berita, Cukup.
Saya masih ingat ketika diangkat jadi junior reporter di sebuah media sol sepatu dengan larangan keras mewawancarai narasumber lewat telepon.
Wartawan harus datang ke rumah sumber berita. Lebih baik ke rumahnya: sekalian reportase tingkat kehidupannya.
Bukankah keadaan ekonomi seseorang bisa dilihat dari kondisi rumahnya.
Reportase tanpa henpon sangat penting karena memberikan akurasi, kredibilitas, dan kecepatan dalam menulis,
Reportase dalam kecabangan ilu jurnalisme adalah fakta secara akurat melalui observasi, wawancara, dan verifikasi data.
Muaranya untuk menjaga kepercayaan publik dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan objektif.
Reportase bukan sekadar kegiatan peliputan. Tapi ia adalah proses pelaporan untuk menyampaikan kronologi sebuah tulisan secara lengkap dan transparan.
Dalam era informasi yang cepat ini, keterampilan, integritas, dan kepatuhan terhadap etika jurnalistik menjadi sangat krusial bagi setiap jurnalis.
Ya… itu mungkin dulu. Di era kuda makan besi. Era jurnalis minum keringat ketika kata digital masih di langit ke tujuh.
Jurnalisme yang yang jadi tertawaan karena ngotot dengan kata Tunggal eetika, yang berimbang, yang akurat,
Yang gak hanya menggantungkan diri pada narasi tanpa verifikasi/
Hasilnya? Kematian.
Dulu saya sering mengejek bentuk jurnalisme model begini afalah kolonialis.
Jurnalisme yang melanggengkan struktur model imperalis yang menentukan siapa yang pantas dianggap korban dan siapa yang suaranya bisa diabaikan.
Jurnalistik yang mereduksi statistik, bukan dengan cerita. Padahal setiap wartawan harus mampu menulis kisah yang seharusnya menggugah hati dunia.
Padal jurnalistik reportase gak pernah takut bersuara lantang sebagai jawab dari makna profesi ini yang bukan sekadar bisnis berita
Jika jurnalisme ingin tetap hidup sebagai profesi bermartabat, jawablah semua persoalan dengan suara kebenaran. Bangkit dari keheningan atas nama nama keberanian
Kembalikan martabat jurnalistik yang kini terancam terkubur oleh style reportase henpon Perlihatkan keberanian jurnalis reportase dalam kondisi mustahil srkalipun
Yaacchhh….. entah kapan era itu akan kembali ketika momentumnya tiba. Saya gak bisa menjawab. Tapi saya merindukannya. Mungkin rindu yang gak pernah datang lagi….
Memang akhir-akhir ini saya sering menggugat diri sendiri –ketika menulis sesuatu. Mengapa sering hambar. Dari judul hingga isinya: sekenanya.
Saya hanya tahu jumlah pembaca lewat angka di tag atau blog. Tentu saya juga tidak bisa memegang angka.
Saat ini, jutaan pembaca bukan orang-orang goblok, yang akan menelan begitu saja informasi yang diterima. Mereka akan menguji dengan sendiri tentang fakta-fakta yang dikaburkan isunya.
Menulis fakta dengan keakuratan yang penuh adalah pertaruhan kerja jurnalisme, bisa saja narasumber berbohong, bisa saja penulis salah tafsir.
Karena kerja-kerja jurnalisme itu dibutuhkan akurasi katanya untuk menemukan kebenaran-kebenaran meski dari sumber yang belum tentu benar.
Sejak dulu saya selalu mendengar kata-kata bad news is good news, yang merupakan rumus kerja wartawan. Tapi, saya kira, itu hanya satu sisi saja.
Berita yang buruk tidak hanya ingin menonjolkan sensasi. Karena berita buruk diharapkan bisa mengingatkan orang agar, tak mengulangi perbuatan yang menyebabkan berita jadi buruk itu.
Berita korupsi, contohnya, adalah berita untuk mengingatkan agar orang berhati-hati mengelola uang yang bukan haknya.
Diera sekarang yang serba mudah mendapatkan informasi, menjadi wartawan kadang harus memiliki tanggungjawab dan menjelaskan kepada masyarakat lebih ekstra.
Banyak orang kerap menyangka pekerjaan wartawan bisa cepat mendatangkan uang. Ini adalah buah dari ulah wartawan yang menulis berita karena diberi uang oleh narasumber.
Dan si sumber juga yang menganggap budaya setelah diwawancarai harus menyediakan amplop.
Mereka berharap, si wartawan mau menulis yang baik-baiknya saja, sehingga harus menyogok dengan sejumlah uang. Korupsi, di negeri ini, memang sudah merasuk ke segenap aspek.
Padahal sisi baiknya, bahwa rakyat harus dilibatkan untuk memutuskan apa yang diinginkannya. Dan pemerintah mendengar lalu menyusun kebijakan yang direstui orang banyak.
Pers adalah salah satu jembatan paling efektif untuk kerja itu. Pasar ide-ide itulah kemudian disebut orang sebagai demokrasi.
‘Jika saya harus memutuskan, memilih pemerintahan tanpa koran atau koran tanpa pemerintahan, saya tak akan ragu memilih yang kedua’
Saya juga menyadari bahwa, dunia tak selebar selembar koran. Ada banyak hal yang belum terungkap dan diungkap oleh kerja jurnalisme.
Ada banyak hal, lebih banyak lagi malah, yang luput dari mata dan telinga juru warta. Lalu di mana letaknya dunia.
Seorang teman yang sudah alih profesi menjelaskan bahwa ada banyak hal yang belum ditulis wartawan yang kini ia ketahui dalam departemen tempatnya bekerja.
Ia merasa hal-hal yang diketahuinya itu juga harus diketahui orang banyak. Tapi, ia bingung dengan cara apa ia memberitahu yang ada hanya benang kusut.
Koran hanya menulis sesuatu yang muncul di permukaan, katanya. Koran hanya memberitakan apa yang ingin ditulis para wartawannya.
Kadang-kadang juga koran-koran menulis apa yang tak ingin diketahui orang. Tapi, menulis banyak hal juga membikin hal ihwal menjadi tidak fokus.
Saya teringat di sebuah hari dulu. Dulu sekali. Ketika saya ngantor di lantai empat proyek senen selalu diingat tentang tugas seorang wartawan yang mencari kebenaran
“Lebenaran ada dimana-mana, termasuk ditempat tempat yang tidak kita sukai. Tapi, kebenaran akan kabur saat pemberi kabar informasinya merasa benar dan membenarkan diri sendiri.”
Tidak ada yang salah, toh kerja jurnalistik hanya membenarkan apa yang dianggap benar.



