close
Nuga Life

Padel Style

Akhirnya saya bersedia datang. Setelah berkali-kali diajak.  Dan setibanya langsumg terpekik dalam gumam: wowww…. style …. lifestyle….

Itulah jebakan awal ketika saya datang kali pertama ke lapangan itu. Lapangan padel milik seorang teman  setelah menolaknya sebanyak tujuh kali.

Jumat malam ketika saya datang dentang waktu sedang merangkak ke perempat malam. Di lapangan padel itu.  kawasan ciputat, lampu sorot berwarna hangat  berpendar menembus kaca bening lapangan.

Di salah satu court, sebuah keluarga kecil sedang bermain penuh keriangan. Pasangan muda, ayah dan ibu, bersama anak mereka. Wanita yang baru berusia disebelas awal.

Tawa si anak pecah setiap kali raket mungilnya berhasil mengembalikan bola. Ia berlari, menabrak pelukan ibunya

Tak jauh dari situ, di tiga lapangan lain, suasana berbeda. Lebih dari dua puluh orang berkumpul.

Saya menghitung. Sepuluh pasangan. Yang ketika saya bertanya; beleumnya mereka saling asing. Dan malam itu jadi lawan sekaligus kawan.

Mereka dipertemukan lewat aplikasi dan sepakat mem-booking lapangan lalu memanfatkan  slot secara barengan. Murah meriah dengan iuran masing-masing. Keuntungan lumayan.

Kepada saya mereka mengatakan, malam itu menggelar kejuaraan kecil-kecilan. Tidak ada panggung. Gak ada penonton resmi. Tapi sorak-sorai mengalir deras antara mereka, seolah dunia luar tidak ada.

Di luar lapangan, di sofa depan  sebuah kafe, sekelompok pengunjung berdiskusi serius.

Ada uap espresso bercampur dengan aroma keringat para pemain. Dari pengeras suara, gitar akustik lokal mengalun pelan.

Saya merapat ke meja sang teman. Seorang profesiaonal yang telah mengambil jatah pensiun di sebuah korporasi media. Dan berinvestasi di olahraga padel.

“Sukses,” katanya pendek tanpa saya tanya tentang usaha barunya itu.

Itulah yang bisa saya catat di awal kunjungan ini. Catatan tentang dunia olahraga baru di negeri ini  yang diramaikan oleh tren lifestyle sport yang semakin digemari masyarakat urban.

Salah satu olahraga yang paling mencuri perhatian, Padel. Olahraga raket yang menggabungkan unsur tenis dan squash dalam permainan yang seru, kompetitif, namun tetap santai.

Bagi mereka yang bermain olahraga ini keringat atau  teknik sudah menyatu dengan gaya hidup.

Mereka datang tidak hanya membawa raket dan bola, tetapi juga outfit yang dirancang untuk tampil stylish, gear yang rapi, dan tentu saja—penampilan yang mendukung rasa percaya diri.

Saya melihat olahraga ini ditata sebagai panggung ekspresi diri Dan penampilan adalah bagian penting dari performa.

Pilihan  pakaian dan sepatu dipadukan dengan gaya rambut. Rapi dan on point  membuat pemain eksiated yang diabadikan lewat foto dan video. Sebuah fun competition.

Dalam satu kalimat pendek saya bisa menyimpulkan: padel bukan sekadar permainan olahraga biasa, melainkan perayaan gaya hidup aktif dan self-confidence.

Event ini juga jadi  fun match, yang aksesorinya  dimasuki elemen beauty service atau personal styling sebagai bagian dari permainan Memadukan dua dunia: beauty care dan sport lifestyle.

Bahkan di court ciputat itu ada layanan hair-styling gratis untuk  peserta terpilih.

Para pemain  mendapatkan kesempatan untuk di-makeover langsung oleh tim stylis sebelum mereka turun ke lapangan.

“Konsepnya simpel: kita ingin bikin semua orang cakep, bahkan saat berkeringat di lapangan,” begitu kata teman yang mengajak saya datng ber”iklan” gratis.

Itu yang saya dengar langsung dari si teman pemilik usaha. Para pengunjung datang dari berbagai komunitas.

Mengusung semangat kompetisi yang hangat, saling menyemangati, sekaligus menikmati momen foto before-after styling yang dibagikan di media sosial.

Mereka memandang perawatan diri bukan sebagai kemewahan, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan aktif.

Sebenarnya saya sudah tahu olahraga padel itu lahir bersamaan dengan tahun pertama saya kuliah di sebuah perguruan tinggi. Lima puluh enam tahun silam.

Acapulco, sebuah kota di meksiko, negara tapal batas dengan amerika serikat  menjadi asalnya. Penemunya bernama : Enrique Corcuera.

Namun bukan di tanah kelahirannya ia berjaya, melainkan di banyak negara Europa. Dari utara hingga ke selatan. Dari sweden hingga spain.

Di spain, spanyol, negeri matador, dalam hitungan dekade saja, padel menjadi olahraga kedua paling populer dan hanya kalah dari sepak bola.

Secara fenomenal kini pertumbuhan olahraga padel sudah melampui angka dua digit.

Kalau angka pertumbuhan ini dipindahkan ke ekonomi negeri ini saya percaya gak perlu lagi meributkan utang kereta cepat.  Gak perlu ribut lagi dengan be-el-te atau em-be-ge.

Selain itu gak perlu ada debat tentang jebakan klas menengah. Ataupun dag dig dug dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan.

Bahkan gak diperlukan si purbaya harus memakai ropi yang bertulis angka delapan sebagai target pertumbuhan ekonomi yang diimpikan si wowo…

Padel memang fenomenal. Selain mencatat pertumbuhan double digit tiap tahun, ia juga dicatat sebagai salah satu olahraga dengan ekspansi tercepat di dunia.

Lantas kenapa padel tumbuh secepat itu?

Jawabannya: padel itu olahraga sederhana. Permainan selalu berpasangan—dua lawan dua—dengan lapangan lebih kecil dari tenis dan dikelilingi dinding kaca.

Dinding itu bukan sekadar pembatas, tapi bagian dari strategi permainan. Bola yang memantul bisa dimanfaatkan kembali. Seperti hidup, kekalahan kecil bisa dipantulkan menjadi kemenangan.

Justru karena sederhana, padel cepat memikat. Orang awam bisa memainkannya hanya setelah setengah jam belajar.

Tak perlu teknik serumit tenis, tak perlu stamina sebesar sepak bola. Namun justru dalam kesederhanaan itu lahir sebuah filosofi: padel bukan olahraga ego, tapi olahraga dialog.

Setiap pemain bisa langsung menemukan makna baru. Setiap pemain gak hanya belajar olahraga, tapi belajar kolaborasi.

Saya menyaksikan sendiri sebagai olahraga padel telah membunuh ego sentris pemain. Sebab setiap langkah pemin harus serasi dengan pasangannya.

Bagi sepuluh pasangan yang semula asing dan dipertemukan lewat aplikasi, padel menjadi jembatan sosial. Dalam satu jam, mereka saling menyapa, bercanda, bahkan bertukar nomor ponsel.

Ada yang kemudian sepakat bertemu lagi, bukan hanya di lapangan yang sama. Bisa Dimana saja. Bisa di Tangerang, Bekasi atau di pondok gede. Atau entah dimana. Bisa juga di meja bisnis.

Inilah yang membuat padel berbeda. Ia memaksa manusia untuk hadir penuh—bukan sekadar menatap layar gawai, bukan sekadar mengangkat beban sendirian di gym.

Padel adalah seni bersama. Bola hanya bisa hidup kalau ada pasangan yang mengembalikannya.

Secara teknis, padel dimainkan di lapangan berukuran sepuluh kali dua puluh meter dengan skor mirip tenis, dan bola boleh memantul dinding kaca hingga setinggi empat meter di belakang lapangan.

Sampai hari ini  popularitas padel meningkat pesat. Saya membacanya.  dalam dua tahun terakhir, ditandai ratusan lapangan baru dan komunitas urban yang terus berkembang.

Meski jumlah pasti pemain aktif belum dipublikasikan asosiasi resmi. Fenomena ini menandai padel bukan sekadar tren, melainkan bagian evolusi gaya hidup perkotaan modern

Saya setuju dengan teman pemilik lapangan di ciputat itu. Hitungan modalnya telah kembali. Hanya dalam waktu sepuluh bulan.

Ya, padel bukan sekadar olahraga, tapi mesin ekonomi baru.

Lapangan padel adalah magnet. Ia menarik bukan hanya pemain, tapi juga penonton, turnamen, kafe, bahkan galeri seni.

Mereka membeli kopi, menyewa raket, memesan makanan. Perputaran uang terjadi tanpa henti.

Namun berbeda dari bisnis biasa, padel adalah bisnis yang mengikat komunitas. Orang datang bukan hanya untuk membayar sewa, tapi untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Ia seperti sebuah keluarga urban yang menemukan rumah baru di tengah kaca dan pantulan bola.

Banyak kesepakatan lahir di lapangan padel. Lantas muncul pertanyaan: mengapa? Jawabannya pun ringkas. Karena padel menciptakan suasana setara.

Di balik dinding kaca, pasangan mahasiswa bisa bertemu dengan seorang pengusaha. Bahkan seorang pejabat publik bisa bermain melawan anak jalanan.

Gak ada podium. Gak juga ada protokol. Hanya empat raket dan sebuah bola.

Lobi di meja makan bisa penuh kepura-puraan. Negosiasi di kantor bisa terasa kaku. Namun di lapangan padel, semua orang sama-sama berkeringat, sama-sama salah pukul, sama-sama tertawa.

Inilah seni lobi yang otentik, persahabatan lebih dulu, kesepakatan lain bisa dikesampingkan. Di kemudiankan.

Dalam diskusi ringan dengan teman yang mengundang kami mengambil tema dari sebuah tanya: mengapa padel cepat sekali naik daun?

Jawabannya gak perlu harus mencarijalan memutar. Mudah menemukannya. Karena ia bukan hanya olahraga. Ia adalah metafor kehidupan modern.

Indikator yang paling riil: permainan harus berpasangan. Ini  mengingatkan saya tentangf  manusia tidak diciptakan untuk sendirian. Kita tumbuh lewat dialog, kolaborasi, dan tawa bersama.

Kolaborasi itu ada pada kafe, galeri, dan komunitas yang mengelilingi lapangan. Ia adalah simbol tentang pencarian kesejatian.

Manusia mencari lebih dari sekadar hiburan. Kita mencari rumah sosial, tempat merasa hidup dan berarti.

Padel naik daun bukan hanya karena mudah dimainkan, bukan hanya karena ekonominya menguntungkan.

Ia naik daun karena menyentuh inti terdalam manusia: kebutuhan akan kebersamaan yang otentik di zaman yang semakin individualistik.

Padel bukan lagi sekadar olahraga baru. Ia adalah ruang hidup, oasis modern, tempat energi fisik bercampur dengan energi sosial.

Saya menyadari, toh, pada akhirnya hidup itu bisa dipersonifikasikan seperti padel  Butuh orang lain untuk pantulan agar lahirnya persahabatan untuk kehidupan yang lebih kohesif.

Padel, seperti yang saya saksikan, untuk kemudian menjadi renungan  menjadi tempat pemberhentian dari kelelahan akan kesendirian.

Pemberhentian dari kelelahan  digital yang sesak dan penat untuk kemudian menemukan ruang nyata untuk tertawa, berkompetisi, dan berhubungan tanpa sekat status.

Tags : slide