GARUDA PLAZA, di Jalan Sisingamangaraja, Medan, di suatu pagi, awal Februari lalu, kala musim penghujan menyiram kota di tanah Deli itu, sepanjang hari. Di lobi yang terbuka dengan Gayo Cafe di sisi timurnya dan restoran di utaranya, ada suasana “meunasah” bak di Gampong Aceh di sana.
“Meunasah” yang mengaumkan bagaikan dzikir “dhalail khairat.” Dzikir paduan suara berharmoni magis yang biasanya dilantunkan dengan intonasi tinggi, terkadang juga mendayu, di “balee meunasah gampong.” Dzikir yang terkadang menghentak dengan retorika yang “ribet.” Retorika, yang hari itu kami datang sedang bereinkarnasi di lobi hotel bintang tiga itu dan menjalarkan aumannya kekisi-kisi ruang.
Simaklah riuhnya benturan kalimat “kelat” dari lafadh huruf “t” berdetak. Huruf “t” ber”getah” dari aksentuasi dialog serabutan. Dialog gaduh, yang terkadang berdentam dan garang dari kalimat berstruktur centangprenang. Kacau. Tak beraturan. Kalimat bersilang tanpa tatakrama pengucapan.
Hari itu, menjalar suara gaduh di meja “reception” tentang kealpaan pencatatan “bocking” kamar. Suara bernada tinggi, mirip orang bertengkar, berhamburan mengiringi kecemasan sang tamu ketika tidak mendapatkan kamar.
Bahkan, dari sudut lain, masih di area lobi, di keremangan pagi Gayo Cafe, sekawanan orang bertampang pengusaha, dengan “stylis meugampong” asyik bercas cis dengan volume meninggi. Suara yang terekam sedang bernegosiasikan harga sebuah proyek sembari menghirup seduhan kopi pagi dan mengapungkan persilangan kata, “jeut, bereh, kah” ataupun “hana masalah.” Kata-kata yang populis berdengung hingga menjepit ke gendang telinga.
Percakapan yang sangat khas Aceh. Nuansa yang bisa “gentlement” dang di ujung “haba”nya, percakapannya, ditutup tawa berderai.
Jangan alpa pula menyimak celoteh berisik yang berlarian dari sudut sebuah restoran, yang subuh itu di sulap sebagai tempat “breakfast,” di sayap kiri lobi. Suara berisik yang menaburkan kalimat pendek “peu lom,” apalagi, dan “neu cok laju,” silakan ambil terus, bernada perintah, dari tamu yang tergagap mengambil hidangan pagi. Kalimat yang diucapkan tanpa basa basi itu membuat tenggelam bisik sepasang tamu “bule,” yang hanya bisa tersenyum hambar dan mengangkat kepala melongokkan pandang kearah asal suara.
Masih di ruang lobi. Di sofa, yang melingkar di tiang tengah, teronggok rombongan tamu “gampong” meregang kantuk. Berdesakan. Mereka masih menunggu antrian kamar, dengan tas bergeletakan di lantai, sembari berceloteh mengumpat jengkel dalam kalimat “carut marut” yang ditujukan kepada “room boy” atas pelayanan adem ayem.
Di teras depan dua keluarga berwajah kusut melintas dan mendenguskan suara gerutu dalam kalimat yang sangat Aceh, ”hana le kamar,” tidak ada lagi kamar. Keluarga ini berpapasan dengan seorang lelaki “berstelan” pejabat, di depan pelataran, yang tampak bergegas untuk menyeberang Jalan Sisingamangaraja sembari menyeringaikan penyesalannya dalam kalimat pendek, ” tuho bocking,” lupa pesan. Dan ia melengos ke arah satpam minta dicarikan taksi.
Masih di area lobi, di depan kotak “lift,” tiga pejabat sebuah kabupaten asyik berdiskusi cas, cis, cus sesukanya dalam bahasa daerah berdialek “jamee,” tanpa peduli sorot keheranan tamu di sekitarnya. “Rapat kerja,” ujarnya dengan nada risih ketika pandangan kami bertabrakan. Jawaban “pembenaran” dari sikap salah kaprah karena tidak ada pertanyaan yang kami lontarkan tentang kegiatannya di hotel “meunasah” Aceh itu.
Rapat kerja,” dalam tanda dua petik, di hotel berbintang tiga itu, yang sekaligus menyertakan anak istri atas nama rekreaksi dan “nyambi” wisata belanja di mall “Sun Plaza” di Kampung Keling atau pun super market “Carefour” di Medan Fair, kawasan Jalan Gatot Subroto, untuk menyebut, dua dari sekian banyak, tempat “shoping” paling digandrungi keluarga ekonomi “pejabat” Aceh jika berada di Medan.
***
Garuda Plaza, ketika hari kami “ziarah” sedang melimpah pengunjung. Padahal, saat itu bukan pekan liburan. Tidak pula di bulan promosi yang biasanya di iklankan secara rutin di koran lokal terkenal Banda Aceh. Hari itu, Garuda Plaza Hotel, memang sedang “booming” tamu. “Booming” dengan “okupansi” atau tingkat hunian “overload,” melebihi kapasitas. Tingkat hunian yang mengharuskan tamu mengantri untuk mendapatkan jatah kamar. Atau mem”bocking” seminggu sebelumnya.
Dan ketika kami konfirmasi suasana melimpah ini dengan Hendra Arbie, pemilik sekaligus pengelola hotel, ia menjawab dengan enteng,” biasa.”
Ya, biasa.
Biasa, ketika hotel milik keluarga Minang, yang mengidentikkan usahanya sebagai rumah “syedara,” sekaligus “meunasah” Aceh tempat tumpangan para “aso lhok,” penghuni asli.
“Meunasah” yang melekatkan nama ruangan dan ornamen khas Aceh di banyak sudutnya sebagai tali pengikat kekerabatan dengan tanah “indatu.” Tali kekerabatan yang menyebabkan para “aso lhok” sumringah ketika nongkrong di Gayo Kafe sembari menyeruput kopi Aceh berlabel “Ulee Kareng Kupi” atau “Gayo Mountain Cafe.”
Atau pun mendecakkan lidah kala menyantap kuliner “beu gurih,” semacam nasi uduk, ber“eungkot kayee,” ikan tongkol yang diproses lewat perebusan dan dijemur sampai keras, di waktu makan pagi.
Bahkan, untuk memelihara harmoni emosional dengan “gampong,” para syedara, panggilan tamu asal Aceh, diberikan secara gratis koran lokal terbitan Banda Aceh yang setiap paginya disorongkan ke pintu kamar-kamar. “Pokoknya, segala bau “Aceh” didekatkan kepada tamu untuk betah di rumah keluarganya,” ujar Parlaungan Lubis, wartawan koran lokal di Aceh yang berkantor di sebuah ruang di hotel itu sejak duapuluh tahun terakhir.
Tidak hanya sekadar menjadi “rumoh keluarga,” Garuda Plaza juga “menyantuni” tamu Acehnya dengan diskon “besar,” asal bisa menyodorkan “ka-te-pe” lokal. Ka-te-pe, yang ketika “perang,” dulu, berwarna merah putih selebar telapak tangan, dan mendiskriminasikan pemegangnya sebagai warga antah berantah.
Dengarlah bagaimana resepsionis perempuan menanyai seorang tamu yang mengaku dari Aceh. “Tolong katepenya” Dan sang tamu gelagapan merogoh dompet mengeluarkan katepe untuk mendapatkan diskon limapuluh persen bagi pemegang katepe Aceh. Promosi siip!! Promosi “gampong” belanja yang mengoyak ekonomi Aceh hingga termehek-mehek.
Sebagai bisnis yang mengidentifikasikan dirinya sebagai “ meunasah,” Garuda Plaza tidak hanya “membocorkan” dompet “syedara” tapi juga menyimak secara seksama lengkok ekonomi “seudati” di tanah “indatu.” Lengkok ekonomi Aceh, yang hari-hari ini bagaikan, “roller coaster,” dari pasang naik pertumbuhan duit yang digelontorkan Jakarta atas nama dana otonomi khusus, dana bagi hasil migas dan dana alokasi umum untuk memadamkan “birahi” kemerdekaan.
Sebagai “syedara, juga, Garuda Plaza takzim membaca “resam” kesantunan “adat peuteumerohom” dengan menghindar kesan meraup laba ketika banjir “raseuki” menggenangi “buya gampong .” Dan dalam posisi lain, “meunasah” Aceh ini tak ingin menjadi “buya lua.”
Mereka hafal sebuah adagium yang hidup sebagai “joke” di tahun tujuhpuluhan hingga awal duaribuan, yang mencabik hati keluarga Batu Phat atau keluarga Syamtalira Aron, ketika perut bumi mereka dihisap gasnya untuk mensejahterakan elite Jakarta, “buya gampong ta dong-dong, buya lua ba reseuki.” Buaya kampung kebingungan, buaya luar menangguk rezeki.
Adagium, yang kini, ketika mobil “CRV, Innova ataupun Mitsubhisi double cabin, berseliweran di selangkang rangkang dipelesetkan dengan kalimat, “buya gampong beuraseuki, buya lua meucok laba,” buaya kampung mendapatkan rezeki, buaya luar mengumpulkan laba.
Adagium “plesetan” yang muncul usai perdamaian Aceh. Adagium yang populer ketika “syedara glee,” saudara gunung, bekas kombatan GAM, turun ke kota dan mendapat rezeki dari jatah proyek dan menimba “fee” untuk kemudian dibelanjakan ke Medan atau Jakarta membeli simbol “gengsi.” Simbol menunggang mobil New CRV dan bepergian dengan pesawat bertiket klas bisnis.
Sebuah adagium yang tidak lagi dilontarkan dengan emosional, seperti beberapa dekade sebelumnya, ketika ekonomi Aceh tumbuh menanjak dan masyarakatnya terpuruk ke dasar kemiskinan, dan memunculkan sinisme menggemaskan di setiap “haba,” pembicaraan, di keude kupi, balee meunasah hingga menjadi diskusi di setiap “bakda” maghrib.
Adagium, yang kemudian, menjadi kalimat perlawanan yang menyulut “prang sabil,” perang kemerdekaan, dengan Jakarta akibat ketimpangan distribusi pendapatan. Distribusi dari penghasilan minyak dan gas yang menyembur di perut Perueulak dan Syamtalira Aron untuk kemudian membuat liarnya adagium, “buya gampong ta dong-dong, buya tamong beurasueki.” Adagium yang menghela perlawanan atas nama keadilan dengan label tuntutan “kemerdekaan.”
Sebuah adagium, yang kala itu, dan kini, disimak secara khidmat oleh pengelola Garuda Plaza untuk mendekatkan jarak dengan para syedara dengan menukarkannya lewat jasa pelayanan penginapan.