Lima puluh dua tahun sudah, Universitas Syiah Kuala berdiri sambil mengantarkan mimpi pendidikan yang lebih baik di Bumi Serambi. Kisahnya panjang, dengan segala suka duka. Sebuah tulisan masih terbaca pada tugu yang terpacak angkuh di tengah lapangan, “Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita.”
Penulis kami, Darmansyah mencoba memotret kisahnya, pada kampus kebanggan Aceh itu. Tulisan diturunkan dalam beberapa judul, selamat membaca.
***
Suasana kampus di sisi barat gerbang kopelma (kota pelajar dan mahasiswa) itu, ketika kami datang di sebuah siang yang mendung, di hari pertengahan Desember lalu, nampak lengang. Di bangku taman, di sudut kanan gedung utama, yang dulunga bekas kolam teratai, kini dirindangi pepohonan, hanya terlihat dua atau tiga mahasiswa sedang menyepi.
Tak ada hingar bingar dan semarak celotehan lepas, khas anak muda, ketika kami menyusuri teras samping gedung aula, yang dulunya gedung terbaik di kampus itu, dari arah lapangan parkir dengan mobil berjejer dari berbagai merek.
Aula “megah” itu, kini, ketika kami melongok dan menjalarkan kenangan ke masa jayanya, sudah dialih fungsikan menjadi laboratorium dengan lapangan bulu tangkis yang kumuh dan sumpek. Kami hanya bisa mengingatnya, itulah aula satu-satunya di kampus “jantong hate poma” dan milik fakultas ekonomi, tempat acara prestise, seperi kuliah gabungan, kuliah umum, orasi ilmiah, dies natalis dan wisuda sarjana berlangsung.
Ketika langkah kami terhenti di pintu samping aula, dan disergap oleh selember kertas yang ditempelkan dengan tulisan,” Lab dan Aula,“ kami tergagap dan terlempar ke 45 tahun lalu ketika di aula itu pernah berlangsung kuliah bersama untuk mata pelajaran Pancasila, Sosiologi, Pengantar Ekonomi dan Antropologi. Sebuah kuliah wajib untuk tingkat pertama, kala itu belum dikenal sistem semester, yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dengan dosen yang sama pula.
“Kuliah gabungan yang sangat riuh dan menyenangkan Kuliah yang menggilas egoisme fakultas dan menjadikan pesertanya sebagai anak persada,” kata Zakaria, pensiunan pejabat di provinsi ini ketika kami bertemu dan mengenang mata kuliah gabungan sosiologi dengan dosennya Marzuki Nyak Man, sosiolog lulusan Gajah Mada, yang kiprahnya di biroraksi mencapai puncak karir sebagai Kalitbang Depdagri.
Dari teras aula kami masuk ke pintu samping menuju ruang tunggu, yang dulunya merupakan kantin fakultas. Menghadap taman terbuka yang sudah ditata rapi dengan “rumput” beton, kami hanya bisa mengingat di taman itu, ketika masih lapangan rumput, pernah di pentaskan sebuah drama kolosal “Odipus Berpulang” karya adaptasi “Oedipus Rex” atau Oidipus Sang Raja, karya seniman besar Sophocles, yang disadur oleh Rendra yang menceritakan tragedi negeri Thebes, Athena, Yunani Kuno tentang intrik dan kedukaan di sebuah kerajaan.
Pentas Bengkel Teater di taman rumput itu, yang juga disutradarai oleh penyair dan dramawan beken Wahyu Sulaiman Rendra atau Willy Brodus Su Rendra di tahun 1972 itu, melambungkan nama Fakultas Ekonomi tidak hanya disebagai tempat persemaian ilmu tapi juga peduli dengan berkesenian untuk kemudiannya dikenang bertahun-tahun setelahnya sebagai salah satu almamater terbaik.
Dari perkenalan mensponsori pertunjukan drama “oidipus berpulang” dan “kasidah berjanji” ini pulalah anak-anak ekonomi meminta Rendra menciptakan “hymne Unsyiah” yang monumental dan dipahatkankan dalam bentuk tulisan di pintu masuk gedung sidang utama DPR Aceh.
Taman fakultas, yang di pagar gedung administrasi, perpustakaan, ruang dosen serta ruang kuliah mahasiswa, yang dibagian depannya berlantai dua itu, dulunya kurang terawat. Landskapnya petak empat. Harmonis dengan bangunan bergaya klasik yang mengitarinya.
Di ruang tunggu itu kini berjejer bangku panjang, yang hari kami bertamu tak seluruhnya terisi penuh. Di dinding “kantin,” eeehhh bukan, kini sudah disulap menjadi bagian pengajaran, dipenuhi papan pengumunan. Tempelan kertas berjejeran mulai dari jadwal “mitem” sampai nomor dan nama kelulusan mata pelajaran mahasiswa.
Tak ada perubahaan ekstrim bangunan kampus fakultas, yang selama empat dekade pernah menjadi “ikon” Universitas Syiahkuala itu. Ruang kuliah, di bagian belakang gedung utama masih satu lantai yang disangga tiang kayu seumantok bercat “keuramat,” abu-abu, seperti dulunya, dan berlantai ubin semen cetakan ukuran 30 x 30 sentimeter juga masih asli “tempo doeloe.”
Jendela semua bangunan masih horisontal dengan bukaan setengah badan dan tak ada tanda-tanda bekas dipermak. Atap bangunan sejak dari gedung utama hingga ke aula dan lokal-lokal kuliah masih ditutupi genteng semen berwarna merah bersambung satu dengan lainnya membentuk segi empat dalam garis simetris.
Dari lokal-lokal berukuran enam kali empat meter, di barat komplek bangunan, menjelang azan zuhur berhamburan mahasiswa yang baru saja ujian semester pendek. Di sini mulai terasa aroma kampus dengan suara hhaa…….hhiii …huuu yang ribet tentang soal tak terjawab atau kelupaan mengisi angka. Aroma kampus yang cair berisi teriakan sapa cas…ciss…cuss.. yang kadang di tingkahi umpatan kejengkelan kesalahan jawaban.
Aroma khas mahasiswa itu, ketika kami menelusuri satu persatu lokal dan gedung di komplek itu menguapkan berkembangnya strata keilmuan di kampus itu sesuai dengan tuntutan kebutuhan pengajaran, yang oleh seorang dosen, ketika kami singgah di ruangnya, dikatakan “pengembangan yang diseuaikan untuk memenuhi tuntutan “….. uang dan……ilmu”
Fakulltas Ekonomi, kini memiliki tiga jurusan strata sarjana dan enam program diploma. Ketiga jurusan itu adalah ekonomi akuntansi, manajemen dan studi pembangunan. Sedangkan enam program meliputi pemasaran, perbankan, perpajakan, akuntansi, koperasi dan pendidikan kesekretariatan.
Mereka juga sudah menyediakan pendidikan lanjutan untuk program pasca sarjana dan doktoral. Ini sebuah capaian yang bagus dari sisi pengembangan akademik.”Tapi tidak dalam hal prestasi indek akademik,” bisik seorang teman yang pernah jadi dekan di sana dan rektor di sebuah universitas negeri di tempat lain yang kini mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta prestiseus di Jakarta.
Apakah fakultas ekonomi sudah mencapai prestasi gemilang? “Itu pertanyaan yang membuat kita ngelangsa,” kata seorang alumninya yang doktoralnya diselesaikan di Malaysia.
Menempati sebuah gedung bersejarah yang berdiri sejak tahun 1962, Fakultas Ekonomi, dulunya di singkat Fekon, Universitas Syiahkuala, merupakan “ikon” lembaga pendidikan tinggi di kampung “jantong hate poma” ini. Mereka begitu lama mencengkeram berbagai “medan” jabatan, penelitian dan pelatihan sehingga untuk menyebut nama ekonomi berarti sudah “identik” dengan Unsyiah.
Komplek “ekonomi,” begitu institusi ini di sebut kini tidak lagi sebatas gedung berlantai dua perpaduan gaya “gothic” dan “romana,” dan aula “megah” yang kini mengerut serta turun status sebagai lapangan bulu tangkis.
Kompleks ekonomi tak punya kolam teratai tanah kosong yang asri dengan bunga bougenvile dan pohon kemboja, tapi sudah di”tumbuhi” hutan beton sesuai dengan kebutuhan pengembangan program yang dikendalikan untuk kebutuhan dana bernama “peng,” duit.
Tak ada suasana adem, karena jumlah mahasiswanya sudah membengkak dengan program diploma. Banyak dari program itu, seperti dibisikkan seorang dosen lulusan Malaysia yang lain, berisi pepesan kosong. Artinya, tidak mencerminkan prestasi akademik lulusan. Sehingga seorang dosen lainnya yang kurang setuju dengan pengembangan program ini mengungkapkan, “program studi itu nyaris menjadi tempat cari makan.” Pengajaran disini tidak lagi mengejar prestasi seperti di masa lalu yang eksistensinya berkibar secara luas diluaran.
Tanyalah kepada Syamsunan Mahmud, mantan dosen fakultas ekonomi, anggota DPR Provinsi, Bupati Aceh Barat, yang menutup karir sebagai Direktur Utama Bank Aceh, bagaimana “hebat” peran fakultas ekonomi dalam penataan awal pembangunan di Aceh.
Dengan antusias lelaki 70-an itu tergelak, menghela nafas dan berkata dengan suara serak mengenang kejayaan kampusnya,” romantis sekali. Saya bisa ekstase mengingatnya.” Syamsunan memang pantas mengapung ketika mengembalikan kenangannya sebagai mahasiswa angkatan “pionir” di kota pelajar megah, kampus Darussalam, setelah gagal menempuh testing di Akademi Militer Nasional, Magelang, Jawa Tengah.
Ia merupakan mahasiswa angkatan awal bersama Alibasyah Amin, TA Hamid, Di Moerthala, Rahman Gani, Daud Mansur, Nurdin AR, Karimuddin Hasybullah dan sederet nama lain di fakultas ekonomi sekaligus Unsyiah, yang dikemudian harinya tercatat sebagai birokrat nomor wahid dalam pemerintahan Aceh.
“Nomor mahasiswa saya 105 dan menyelesaikan kuliah di urutan ke-37. Saya pernah menjadi anggota DPRD Provinsi di usia 32 tahun. Menjadi Bupati Aceh Barat 1973 di usia 34 tahun. Kemudian menjadi direktur utama bank daerah entah untuk berapa periode,” tutur Syamsunan tentang karir non kampusnya.
Syamsunan ketika kami temui pekan lalu masih sempurna mengenang masa-masa awal perkuliahannya yang pahit. Tanpa gedung permanen, tanpa transportasi, tanpa dosen tetap dan tanpa biaya hidup teratur.
“Hanya semangat yang menggelegakkan keinginan kami untuk mendapatkan predikat sarjana,” katanya anak kelahiran Calang, Aceh Jaya itu tergelak. Kuliah pertama mahasiswa angkatan “tekad bulat” ini, awalnya, berbagi ruang di gedung SMEA Darussalam. Gedung yang kemudiannya setelah komplek faklutas ekonomi selesai dibangun dipindah pakaikan menjadi ruang kuliah APDN, dan kini, bekas lokasinya berdiri gedung rektorat.
“Ya. Saya masih siswa SMEA dan kuliah dalam satu gedung yang sama dengan mahasiswa angkatan pertama Unsyiah. Bangga sekali,” kenang Harun Keuchik Leumik budayawan sekaligus pengusaha toko mas paling sukses di Aceh.
Eksistensi fakultas ekonomi sebagai perguruan tinggi pionir memang monumental. “Saya tak bisa mengungkapkan bagaimana romantisnya menjadi mahasiswa kala itu,” ujar Daud Mansur yang memilih menjadi pengusaha, kemudian beralih menjadi politisi usai menamatkan kuliahnya.
Bergulat dengan ketiadaan dosen dan berafiliasi dengan USU hingga akhirnya mereka merapat ke Fakultas Ekonomi UI setelah “wobaksot”nya alumni asal Aceh yang menuntut ilmu di perguruan itu seperti Madjid Ibrahim, Ibrahim Hasan, Teuku Risyad, Syamsuddin Mahmud dan mereka juga mengajak serta bekas mahasiswa PTM (pengerahan tenaga mahasiswa) lulusan sarjana ekonomi seperti Soegiarto.
Tidak hanya “memulangkan” alumnus asalah Aceh, UI juga mengirim dosen “terbang,” istilah ketika itu, mengajar di “fekon.” “Out put” afiliasi ini mencatatkan nama JB Sumarlin, Moehamad Sadli, Soemitro Djojohadikusomo dan Ali Wardhana sebagai tenaga pengajar, sebelum mereka bergabung di kabinet sebagai “gang” mafia Berkley.
Romantisme kampus, belajar, berorganisasi dan juga berpacaran, sangat kental melumeri civita akademika ekonomi. “Mereka ikon semuanya,” kata Basri Emka anak fakultas pertanian yang dulunya kuliahnya di gedung setengah permanen yang bocor dan terletak di sudut timur Darussalam yang sepi, mengenang betapa “superior” anak-anak ekonomi di fase awal keberadaan perguruan tinggi itu.
Ikon kampus, ikon ilmu dan ikon organisasi. Sebuah peran yang sulit untuk diraih kembali setelah mereka terpuruk menjadi fakultas “class medium” di pelataran akademik ilmu ekonomi. []