close
Nuga Kolom

Kolumnis

Ia seorang kolumnis. Strata kolumnisnya, seperti yang sering ia hahaha..hihihi ..kan ke saya, belum ditingkat tasauf. Belum katagori sufi. Dan belum pantas menyandang ayatollah.

Bukan seperti halnya gm dan shindu. Dua nama yang kolumnisnya sudah berada di awan makrifat.

“Kalau saya di bawah dan bawah lagi dari keduanya,” katanya kepada saya kemarin pagi.

Anda gak perlu saya kasih tahu siapa gm dan shindu. Goenawan mohammad dan shindunata. Dan juga gak perlu dikasih tahu gaya, tema dan isi kolom yang mereka tulis.

Si kolomnis yang teman ini, seumuran. Di kepala tujuh. Kalau dia di tujuh bawah  saya di tujuh atas.

Tapi, soal menulis posisi saya dan dia terbalik. Ia lebih atas. Saya berada di bawahnya dan berada di posisi “meugampong.”  Walau pun punya kolom di sebuah media online.

Kolom-koloman…

Beda lainnya saya  dengannya, dia sudah melewati gerbang avant garde. Bukan lagi sekadar penjaga gawang. Sudah striker. Tukang bobol gawang. Gawang kemapanan

Gawang kemapanan seorang kolumnis itu punya tagline di banyak media. Seperti sang teman. Ada dua belas tag miliknya selain blog..

Anda tentu tahu apa itu kolumnis. Ada banyak referensi yang bisa digunakan untuk menjelaskannya.

Yang saya pahami, kolom adalah tulisan kreatif non-fiksi yang berkaitan dengan peristiwa aktual, disajikan secara personal di mana penulis dan pembaca berada pada situasi intim,

Situasi intim yang saya maksudkan ini tentu tidak hanya untuk menceramahi pembaca tapi juga untuk mengusik dan menghibur.

Pada mulanya, kolom identik dengan surat kabar. Ia menjadi semacam tempat rehat, setelah pembaca lelah melahap berita dan artikel biasa.

Penyebutan kolom bisa beragam: esay, sketsa, jeda dan lain-lain.  Mereka  menulis untuk dipublikasikan dalam sebuah seri. Menulis artikel. Isinya komentar dan opini.

Kolomnis itu pengisi kolom di surat kabar , majalah , dan publikasi lainnya, termasuk blog .

Kolom sendiri sebenarnya adalah tulisan sederhana tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita.

Tulisan ini biasanya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, merakyat, sinis, kadang juga penuh canda. Berbeda dengan opini, misalnya.

Sebagai seorang kolumnis sang teman rutin menulis artikel. Dari kandidat presiden pada suatu minggu, dan cerita tentang kebakaran hebat  pada minggu berikutnya

Si sang teman pernah menjadi penulis kolom tetap di sebuah surat kabar harian nasional. Ia menurunkan tulisan-tulisannya secara berkala. Sekali atau dua kali seminggu.

Sebagai penulis kolom ia menyukai hedda hopper dan louella parsons  dua kolumnis gosip terkenal di era ketika surat kabar memiliki pengaruh yang menentukan karier pesohor.

Persaingan mereka sangat sengit. Sejalan dengan perseteruan mereka, kita dapat melihat pajangan mereka di rak terpisah, di sisi lobi yang berseberangan.

Tentang kepenulisannya ia sering mencandainya dengan mengatakan: buruk wajah cermin dibelah. Saya gak pernah tahu makna pepitih itu hingga kemarin ketika kongkow dengannya.

Seingat saya saya, dulunya, ketika saya dan dia masih menyandang predikat “mature”  ia pernah mengirim tiga kuplet tulisan kepada saya tentang wajahnya yang ngenyir.

“Wajah saya sepertinya mirip dengan orang-orang arab. Di bawah mata ada hidung kokoh yang tampak terlalu besar bagi wajah saya yang agak kecil.

Daun kuping saya menyerupai daun kuping peri. Agak kebesaran. Bibir? Bawahnya tebal tebal dan hampir cacat bentuknya.

Gak disangsikan lagi yang paling tak menarik dari semua ciri fisik itu ketika saya marah dan bibir bawah terdorong ke depan.

“Seluruh wajah saya bak karikatur kejelekan. Kek..kek..kek”.

Hanya intermezzo……Hup…kembali ke kolomnis

Kemarin di bubur ayam cikarang, di sebuah ruko sepelemparan dari presiden university, saya dan dia larut mengupas tentang peran kolomnis.

Membahas profil para kolumnis. Mulai dari umar kayam hingga sheila moss. Umar kayam yang anda tahu bagaimana  gaya dan narasinya kepenulisannya yang menggelenda.

Atau pun sheila moss  seorang kolumnis humor asal negeri trump.Trump yang kini bermain tarif impor yang menyenggol india dan brasil. Trump si tua supak bikin ngakak.

Tentu  muncul pertanyaan dalam percakapan huda hudu saya dan si kolomnis di pagi itu tentang siapa yang pantas menyandang status kolumnis itu sebenarnya.

Sang teman tak ingin menguraikannya. Ia hanya tertawa sembari membagikan sebuah colekan ke hape saya .

Biarlah  seorang kolumnis masyhur yang pernah dimiliki  bangsa  ini untuk menjawabnya. Jawaban itu pernah dimuat di rubrik “asal usul” kompas dua puluh tujuh tahun silam.

Nama sang kolumnis: mahbub junaidi. Jangan tanya bagaimana hambo tulisannnya di banyak kolom media.

Khusus untuk jawabannya tentang siapa kolumnis itu. begini tulisannya:

“….kerjaan dirjen orang tahu. Begitu juga makelar atau komisioner. Bahkan profesi dukun pun orang paham. Tapi profesi “kolumnis” masih asing dan belum banyak yang maklum.

Jika saya mencantumkan perkataan “kolumnis”  sebagai jenis pekerjaan, banyak yang bertanya-tanya binatang apa sih kolumnis itu?

Kolumnis itu bagian pekerjaan malam apa siang?

Bahkan ada yang bertanya, apa beda antara kolumnis dengan komunis? Tentu beda.

Komunis itu sudah musnah sedangkan kolumnis itu masih ada, setidaknya sampai hari ini. Perkara besok akan lenyap juga, nantilah kita lihat saja….”

Jawaban itu goal……

Ya… seingat saya koran kompas dulunya memang pernah punya rubrik kolom yang  penggemar berjibun. Namanya “asal usul”.

Bukan asal usil atau pun asal usir… Kalau ini cilaka wkakanda..

Rubrik yang hadir saban minggu itu kini telah tiada. Seorang kawan saya lainnya yang pernah menjadi redaktur minggu kompas membenarkan tentang kolom itu trending.

Sang teman redaktur itu bre redana. Nama kepenulisanny. Sedang saya menyapa don sbdono. Mas don.

Katanya, syukurlah masih ada rubrik “parodi” sehingga media itu bisa terhindar dari tuduhan sebagai koran anti tulisan kreatif.

Selain itu setahu saya majalah berita minggua tempo juga tak lagi menyediakan ruang untuk tulisan kreatif.

Kolom bahasa milik Tempo memang mempunyai kekhasan, tapi tak sebanding bila dibandingkan dengan kolom-kolom yang pernah disajikan para kolumnis di media itu dahulu.

Bagaimana dengan media online? Berdasarkan pantauan saya, hanya detik.com yang menyediakan rubrik kolom.

Tetapi itupun lebih banyak berisi artikel-artikel ‘kering’ sebagaimana banyak kita temui di koran-koran.

Saya pernah menjumpai beberapa kolom bagus di media itu, namun datangnya selalu dari penulis yang sama.

Baiklah, mari kita ambil sisi positifnya. Dalam kondisi memprihatinkan seperti sekarang, siapa pun punya peluang besar untuk menjadi kolumnis.

Kuncinya adalah bersedia terus belajar dan tidak menyia-siakan kesempatan.

Soal reward dan popularitas, janganlah dipusingkan.

Yakinlah bahwa keduanya bakal mengejar-kejar kita manakala karya-karya  mereka memang khas dan tidak mudah ditiru kebanyakan penulis.

Terus terang, di saat memperingati  hari kemerdekaan yang ke delapan puluh saya merasa prihatin terhadap kondisi perkoloman kita sekarang.

Kecuali goenawan mohamad, nyaris tiada lagi kolumnis handal yang menghiasi media-media massa kita.

Dulu kita punya umar kayam yang sketsa-sketsanya di harian terkenal jogyakarta “kedaulatan rakyat” begitu memikat.

Kolom-kolom itu kemudian dibukukan dalam buku “mangan ora mangan kumpul” yang terdiri dari beberapa jilid.

Umar kayam seperti halnya mahbub kini sudah almarhum. Koom-kolomnya jernih dan jenaka.

Selain itu kita juga kehilangan kolumnis spesialis seperti sindhunata yang kolom-kolomnya mengenai sepakbola  Atau pun ignas kleden.

Bersamaan dengan krisis kolumnis, kita juga semakin sulit menemukan media massa—khususnya koran dan majalah—yang menyediakan ruang untuk kolom.

read more
Nuganomics

“Kwiknomics”

Saya tahu ia bukan hanya ekonom. Ia adalah nurani yang hidup dalam sistem yang sering kali membunuh nurani. Seperti para ekonom hari ini. Di banyak entitas. Akademisi atau peneliti. Saya juga tahu ia adalah suara
read more
Nuga Forum

Masih Terowongan

Kemarin siang menjelang zuhur saya ke kantor bappenas. Kantor bappenas di taman surapati. Saya baru tahu gedung utamanya  mengambil nama tokoh sentral pembangunan dan ekonomi negeri ini di era orde baru: widjojo nitisasstro. Nama itu
read more
Nuga Forum

Survei Thayyiban

Saya baru tahu peta jalan rekayasa hasil survei Detil. Kemarin siang.. Sebelumnya saya hanya tahu dari cerita setengah hoaks. Dari skeptis yang muara kualanya ke purbasangka, Purbasangka yang sudah lama jadi tanaman di akar pikiran
read more
Nuganomics

Koperasi Simsalabim

Saya sepakat dengan banyak teman tentang koperasi merah putih itu. Koperasi “simsalabim.”  Koperasi sekali tepuk delapan puluh ribu blas ,,, punya izin usaha dan sebagainya..dsb.. dsb.. Banyak dsb lainnya yang anda sudah tahu… Tentang kata
read more
Nuga News

Bongek Journalism

“Jurnalisme itu apa, sih?” Reflek saja terucapkan : “bongek.” Dan klas tharekat menulis itu senyap…Lantas dalam hitungan detik berikutnya klas penulisan di sebuah garasi  kawasan bintaro yang disulap bak resto kecil itu gemuruh dengan tawa..
read more
Nuga News

Esai Tawakallah..

Pagi tadi ia menelepon. Gaya bicaranya, masih seperti dulu..nya. Tembak langsung. Terus terang. Satu lagi cirinya yang saya gak mau pakai istilahnya tanpa tedeng aling-aling. Tedeng aling-aling itu istilah orde lama… Out model..kalah dengan tik
read more
Nuga Forum

Terowongan Bla..bla..

Terowongan geurutee… Saya sengaja menunda untuk menulisnya. Beberapa hari. Biasa. Khas jurnalis “made in lama.”  Yang gembok kunci otaknya hanya satu kata: skeptis. Menunda setelah banjir bandang informasi yang balepotan dengan imaji tentang isi berita
read more
Nuga Forum

Kopi Si “Bebet”

Ia dipanggil “bebet.” Nama itu bukan dari kosakata “bebet-bobot.” Tapi dari “bebeto” yang “o” dibuang. Si bebet ini memang kesemsem dengan bebeto benaran. Yang pakai "o" di ujung panggilannya. Si bebet ini sejak dulunya sering
read more
Nuga Forum

Complang

Saya tak akan banyak berharap bakal ada perubahan mendasar di provinsi itu. Provinsi yang saya sepakati dengan beberapa teman dengan status “otonomi setengah complang” Provinsi yang sering dikatakan teman lainnya setengah dhuafa. Entah hari ini.
read more
Nuga Forum

Blang Padang….

Saya gak punya jawaban atas banyaknya pertanyaan dari teman-teman “lakum dinukum” sehari setelah tulisan tentang sebuah lapangan yang mungkin akan berganti status “kepemilikan.” Dari pertanyaan  itu saya tahu ada kecemasan dalam bungkusnya. Kecemasan bakal ada
read more
Nuga Tokoh

Zohran “Syi’ah” Mamdani

Umurnya tiga puluh tiga tahun. Masih sangat muda  Ganteng. Perpaduan punjab-gujarat.  Barewokan tipis. Bak barewokan milik surya paloh. Gayanya humble. Khas rapper. Dan ia memang seorang rapper. Amatir. Sering tampil di banyak panggung Punya grup
read more
Nuga Forum

Lapangan “Lakum Dinukum”

Bagi saya blang padang itu seperti lapangan dalam lafadzh “lakum dinukum....” Blang padang yang kini hebohnya ampun… Di media, mainstream dan medsos. Usai heboh seheboh-hebohnya empat pulau piatu. “Lakum dinukum”nya blang padang bagi saya adalah,
read more
Nuga Forum

Bani Syiah

Ia mengatakan israel itu setan kecil. Setan besarnya? Balik tanya itu gak memerlukan interval panjang.  Langsung saya sambar tanpa mikir: amerika. Ashbabnya, dua hari lalu dalam tulisan saya di sebuah media mainstream saya telah mengatakan
read more
Nuga Kolom

Fikih Syiah

"Sepertinya, semua kita sudah jadi syiah.” Itu bukan kata saya. Itu kata sepakat ketika kami “duek pakat” di sebuah keude kupi di kawasan tebet barat. Keude kupi milik seorang rakan . Pagi tadi. Keude kupi
read more
Nuga Sehat

Konsil Kolegium

Teman saya itu dokter. Spesialis. Penyakit dalam. Sejak tiga puluh dua tahun silam. Sudah sub spesialis, Jantung. Sudah di tataran guru besar. Pernah jadi dekan dan direktur rumah sakit milik pemerintah provinsi. Ia tulen aceh.
read more
Nuga Forum

Negeri Setengah Yatim

Singkil itu negeri setengah yatim. Itu bukan kata saya. Itu kata si armin. Kemarin saya  meminjam kata si armin itu untuk judul esai pendek :”pulau piatu di negeri setengah yatim” Saya meminjamnya bak kue  pancung
read more
Nuga Sehat

Benang Kusut

Anda gak perlu di kasih  tahu atau mencari tahu bagaimana mengurai benang kusut. Sudah tahu... Kalau saya ditanya tentang benang kusut akan menjawabnya dengan sangat sederhana: luruskan dulu otakmu dan padamkan egomu Benang kusut itu
read more
Nuga Forum

Merdeka Pesong

Saya marah ketika ada kata “merdeka” yang dipenggal sebagai simbol kebebasan berpikir di kampung sana. Kata “merdeka” yang dikaitkan dengan sebuah aspirasi. Cara pemenggalan kata merdeka itu lewat bunyi yang senyap. Di bungkus secara bloon.
read more
1 2 3 4 … 1,016
Page 2 of 1016