close
Nuga Forum

Sabang Morai

Sabang adalah indonesia?

Sepertinya saya   sulit diyakinkan bahwa sabang itu adalah indonesia  Di otak saya sabang itu gak   pernah punya persambungan  dengan kata merauke-nya

Yang kemudiannya lanjut dengan namanya indonesia.

Sabang – merauke itu bagi saya hanya jargon. Jargon yang sudah lama mengalami inflasi. Sudah terdegradasi.

Seperti terdegradasinya penggalan lagu: dari sabang sampai merauke dan seterusnya… dan seterusnya…

Bukan hanya saya. Anak-anak paud pun hang ..hing..heng… dengan persambungan syair yang kata-katanya: berjejer pulau-pulau… dan itulah….

Gak percaya?

Coba alunkan syairnya ke mereka. Saya memastikan mereka akan bengong untuk menyambung lanjutan bait syairnya atau kepayahan hingga melelahkan untuk melantun dendang irama dengungnya… ng-ng-ng……

Bagi saya sejak menyadari indonesia dalam syair..” sekali merdeka tetap merdeka”… harga tawarnya bukan berarti  sabang itu  harus dipasangkan dengan merauke-nya. Sabang itu bagi saya tetap bebas. Berdiri sendiri.

Seperti pelabuhan bebas. Perdagangan bebas. Dan ia berada dalam jangkauan kebebasan. Semua itu dulunya diakomodir dalam regulasi kepabeanan yang bebas dari negeri bernama indonesia.

Regulasi ini sudah ada sejak dulu. Sejak saya masih di arash langit….

Sejak “sabang maatschapay” Sejak rotterdam lyoid dan nederland handel mengelola sabang sebagai sebuah otorita. Sejak otorita itu  berkantor di teluk indah itu.

Otorita yang membangun dermaga untuk kapal-kapal ukuran jumbo dan memasang derek dengan tonase tinggi serta membangun macam-macam.

Seperti membangun area penimbunan batubara untuk bahan bakar kapal yang berlayar ke europa lewat tanjung harapan. Melintas pasifik untuk menjangkau  amerika atau pun asia timur.

Bukan membangun penimbunan cangkang sawit.

Itulah sabang yang di bawah bendera sebuah matschapay.

Tiga bulan lalu saya ke sabang. Kunjungan untuk kesekian puluh kalinya. Saya gak berani menaikkan hitungannya ke angka seratusan. Itu kunjungan terakhir..

Di kunjungan itu saya membawa empat teman investor. Naik speedboat selama satu jam dari ulee lhuee. Dari pelabuhan kecil di ceruk muara yang bersebelahan dengan sebuah masjid.

Masjid yang  menjadi ikon usai tsunami karena tetap tegak sebagai lambang keutuhan negeri ujong donya ini. Masjid yang gak disapu hambalang laut. Masjid yang gak retak oleh amblasnya tanah di perut samudera sana.

Saya sengaja memilih rute penyeberangan speedboat carteran yang menjadi tumpangan kami  mengambil jalan memutar weh. Tidak tembak langsung dan merapat ke balohan sebagaimana fery yang menghubungi daratan dengan pulau itu.

Boat kecil berkecepatan tinggi itu mengambil jalan memutar untuk sampai ke pelabuhan milik matschapay. Pelabuhan sabang. Pelabuhan di ceruk perut pulau. Pulau weh.

Di di dermaga pelabuhan itu sabang masih memesona. Masih cantik sekali dengan perahu-perahu nelayan yang menari diayun nyanyian kecipak gelombang kecil tiupan angin samudera.

Di pinggiran dermaga tersisa  gudang-gudang beratapkan seng.

Depan pelabuhan ada masjid dengan kubah mengkilat, menara warna putih hijau, juga rumah-rumah yang bersusun di setiap trap tanah undukan yang dicacah.

Saya ingin membuktikan  ke teman investor  bahwa cerita sepanjang perjalanan tentang sabang yang maatschapay bukan sekadar “bohay.”

Cerita yang  dalam penyebarangan di lautan bebas itu saya kutip dari tulisan  seorang wartawan hebat di sembilan puluhan tahun lalu yang terkagum-kagum dengan sabang.

Sang wartawan bernama adi negoro. Adi negoro yang membuat catatan perjalanan dari batavia, temasek, sabang dan europa

Kekagumam adi negoro di hari perjalanan saya dengan teman investor itu masih tersisa dalam gumam panjang.

Di luar pelabuhan. Di sebuah jalan kecil yang bersambung lagi ada kawasan yang saya katakan ke teman-teman itu sebagai “kampung tionghoa.” Kampung tionghoa yang kini jadi jalan perdagangan.

Laporannya perjalanan sabang di era itu jadi sangat memikat karena adi negoro menggabungkan cerita sehari-hari dengan acuan berbagai bacaan klasik, dari antropologi hingga theologi, dari sejarah hingga filsafat.

Salah satu tempat pemberhentiannya adalah pelabuhan sabang di pulau weh, di ujung sumatra

Ia menulis tentang persinggahan kapal tambora  untuk mengisi bahan bakar batubara. Adi negoro berkeliling sabang

Ia membandingkan sabang dengan singapura yang kala itu masih bernama temasek milik inggris yang baru saja disinggahinya.

“Tapi kalau menilik kepada pelabuhan saja, sabang lebih bagus. Hanya perkara letaknya saja kurang baik.”

Lanjutnya,” biarpun pemerintah belanda menjadikan sabang satu pelabuhan bebas, tiadalah akan seramai singapura, sebab letaknya jauh dari pusat perdagangan di asia timur.”

Di hari kunjungan saya itu sabang masih dengan pohon morai. Pohon yang juga pernah di tulis oleh adi negoro. Pohon yang ditaksir berusia tiga ratus tahun.

Setahu saya sabang memang hijau. Sehijau ketika dua teman karib saya bertugas jadi pejabat di sabang dengan institusi yang berbeda. Institusi yang dulunya saling menyikut.

Menyikut lewat dua undang-undang yang setara tapi gak sebangun.

Sabang memang hijau dengan pohon morai yang nama latinnya keluarga tumbuhan pithecellobium dulce. Tumbuhan yang banyak ditemukan di kawasan asia tenggara.

Konon, asalnya tanaman itu dari amerika tengah. Dalam bahasa inggrisnya disebut guayamochil atau manila tamarind.

Saya menyebut nama tanaman itu asam Belanda lebih spesifiknya lagi  asam koranji.

Pada zaman adi negoro, singapura lebih besar dari sabang, tapi perbedaannya kontras sekali hari ini. Singapura kini salah satu pelabuhan laut tersibuk dan termodern di dunia .

Sabang?

Ironis. Mengecil. Bahkan makin kurang pelayanannya dibanding ketika adi negoro datang di satu abad silam

Singapura sekarang berpenduduk empat juta orang. Sabang gak bergerak dari angka tiga puluh ribuan orang.

Teman saya yang pernah jadi pejabat walikota di sabang tahun lalu mengatakan pada bahwa pada era maatschapay sabang memiliki dermaga dengan panjang total dua ribu tujuh ratus meter.

Sekarang hanya enam ratusan lebih.  Lantas saya menyimpulkan sabang mundur seratus tahun sejak era roterdam loyd

Bahkan teman yang lainnya zubir syahim yang pernah jadi ketua badan pengelola kawasan sabang, sering mengatakan sabang masih punya prospek cerah sebagai hub lalu lintas perdagangan global.

Ia secara eksplisit sering memamerkan  foto sabang  di era maatschapay di mana teluk indah itu mampu menampung hingga enam puluh kapal.

Sekarang berapa?

Ia gak mengatakan pmerintah kurang memberi perhatian pada sabang. Ia cuma membagi kenangan  ketika dulunya derek peti kemas yang pertama ada di sabang

Sebelum ada di singapura, batavia  atau surabaya.

Keluhan tentang sabang yang surut seratus tahun kebelakang bisa makin menjadi-jadi. Terutama ketika sabang dibubarkan sebagai pelabuhan dan daerah perdagangan bebas.

Alasannya banyak “penyelundupan.” Tuduhan yang bisa dibantah termasuk oleh zubir sendiri. Yang kemudian dipulihkan di awal abad ini dengan status bebas lagi.

Setiap kali saya mengunjungi sabang bukan hanya karena kecantikan atau kekalahannya dari singapura atau batam. Atau pun yang terakhir ini oleh pulau pemping.

Tapi saya sungguh muak dengan permainan pemikiran politik. Sabang terletak di ujung paling barat dari negara yang dinamai indonesia

Frase  ini sering dinamai dengan “sabang-merauke.” Frase yang juga sering disebut tiap kali jakarta menghadapi pemberontakan daerah, termasuk aceh.

Pemberontakan aceh jadi terlihat paling serius. Untuk itu gak harus dibiarkan merdeka

Aceh dinyatakan darurat militer. Keputusannya yang dicatat oleh negara bernama indonesia  Keputusan  ini cukup populer mengingat meningkatnya rasa kebangsaan nun di tempat sana

Seperti diketahui pemberontakan aceh dilabel dengan gam. Gerakan aceh merdeka Sebuah jaringan gerilyawan yang mengupayakan pemisahan aceh

Yang saya mencatat di era itu ketika menjadi sesuatu di surat kabar lokal: kehadiran mereka sebenarnya tak begitu terasa di sabang. Yang gam-nya cuma puluhan dengan senjata api seadanya.

Dalam perjalanan ini teman investor yang saya pandu sempat tepersona dengan pemandangan cantik laut biru, ombak tenang, dan di kejauhan terlibat sebuah kapal kayu mungil.

Suara angin laut menderu-deru. Tempatnya sepi dan indah, terletak di balik sebuah bukit, dalam sebuah kawasan hutan lindung

Ibaratnya, kata teman itu secara berbisik ke saya, negeri ini seperti selembar surga ditanamkan di muka bumi. Mereka jatuh cinta dengannya. Ada perasaan tenang, sendu, dan teduh.

Lantas saya berpiki, apa makna indonesia di tempati?

Nasionalisme macam apa yang diinginkannya oleh meraka yang menelantarkan sabang. Apa makna simbol ini ketika ketidakadilan pembangunan bersimbah darah.

Ketika Jakarta hanya melihat batam. Pemping ataupun rempang. Dan untuk apa sabang-merauke dan dan  tempat diberi nama keindonesiaan-indonesiaan.

Pemberian nama yang seakan-akan menggambarkan ada ikatan emosional antara semua warga “sabang” dan semua warga “merauke” nun jauh di ujung timur  sana.

Lantas muncul pertanyaan saya, jika hubungan itu ada, mengapa ada pemberontakan besar di aceh?

Mengapa banyak orang aceh, seperti saya. setidaknya,  menginginkan “otonomi khusus” atau bahkan “kemerdekaan” ?

Saya  merasa getir dengan setiap kali keputusan jakarta yang membiarkan sabang melata, mencabut status pelabuhan bebas sabang  dan sebagai ..dan sebagainya?

Kemudiannya saya teringat literasi tentang “negara-bangsa.” Literasi tentang sebuah  pemahaman tentang komunitas maya.

Sebuah komunitas yang sebenarnya adalah sebuah tempat di mana warganya tahu sebagian besar warga lain.

Dalam “negara-bangsa,” bahkan seumur hidup pun, seorang warga negara tak tahu sejumlah besar warga lainnya.Tak ada perasaan saling memiliki.

Saya tahu “bangsa” adalah sebuah proses, bukan sebuah produk. Proses inilah yang tampaknya kurang diperhatikan.

Kesibukan melakukan “pembangunan” dan mengatur semuanya dari sana, membuat sabang  terbengkalai yanga membuatnya tidak  membesar tapi mengecil.

Hujan pun turun rintik-rintik.

Praktis. Tidak lebih tidak kurang. Dan proses menjadi “bangsa” di negeri jadi gamang ketika merasa tujuannya sudah tercapai.

read more
Nuganomics

Janda Sabang

Sabang itu “janda.” Saya tahu itu. Kalau pun gak dikasih tahu seperti “share” teman di pagi kemarin itu  saya pun sudah tahu. Tahunya pun sejak dulu. Sudah sejak lama. Itu menyebabkan share sang teman terasa
read more
Nuga Tokoh

Tanpa Sapu

Aceh pernah memiliki ibrahim hasan. Saya, masih selalu ingin memiliki ibrahim hasan sampai sekarang. Dulu, ibrahim hasan itu ganteng dan gagah. Ada sedikit kelingnya. Keling simpang tiga. Pidie. Pidie yang gak galak dan penuh tawa
read more
Nuga Tokoh

“…Si Otodidak”

Kemarin siang di tengah amuk kacau balaunya jalanan haji mas mansur, tanah abang, jakarta pusat,  saya meneleponnya setelah dua kali sebelumnya dering panggilan gak wusss… Hang… Baru dipanggilan ketiga ketika saya menyingkir dari pilinan benang
read more
Nuganomics

“Bohay” Atsiri

Ia masih seperti yang dulu. Masih penuh vitalitas diusianya sudah manula sepuh. Manula sepuh seperti saya yang gaek penuh. Usia yang seharusnya sudah mendapat nama baru. Pak tua atau tua..tua.. dan tua..atau kakek… dan semacam
read more
Nuga Forum

Lailatul Gang Buntu

Kenangan itu tak kan mungkin terulang dan terlalu indah untuk dilupakan. Saya selalu merindukannya. Merindukan hari-hari terakhir di bulan ramadhan di saat itu Hari-hari yang selalu saya selipkan dalam bait doa:”kalau engkau maha pemberi izinkan
read more
Nuga Forum

Merdeka…..

Saya sering menularkan pertanyaan ini ke teman ngumpul atau teman ngobrol. Baik ngobrol nampak muka maupun ngobrol kelihatan punggung.. hahaha… Gak ada yang aneh dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang sering diejek gak jelas juntrungannya. Bisa
read more
Nuga News

Framing Titik-titik

Saya seperti anak sekolahan. Tingkat paud. Seperti cucu saya. Disuruh mengeja kosakata-kosakata tertentu. Kosakata yang trending khas era digital. Kosakata yang hilang dan membuat saya tergagap tiap kali mengejanya. Itu berulang-ulang dan terus berulang… Muasalnya,
read more
Nuga Forum

“Ba La Ap” Kemiskinan

Pabrik ban di meulaboh.. refinery sawit…jalan toll …investasi  mubadala…dan seterusnya.. dst…. Halu…. Saya hang..hing..heng…dengan narasi yang mengisi pernyataan itu. Pernyataan yang menyeret saya ke  dalam melodrama. Melodrama karena sudah lama menyimpan skeptis terhadap kepemimpinannya. Skeptis
read more
Nuga Forum

Kabur Referendum

Ia mengejek dengan kata “kuno” ketika saya men”share” esai seorang teman “old journalism” tentang tagar “kabur aja” lewat  whatsapp di siang kemarin. Dengan nada sinis ia lanjut dengan satu kata lainnya: “artefak.” Saya tahu apa
read more
Nuga Tokoh

Bir Bre Redana

Saya gak tahu apakah ia masih “memeluk” bir bintang bak guling sembari memandang poster bugil madonna dari ranjang bambu di sebuah ruang sederhana rumahnya menjelang tidur? Tak pernah menanyakan itu lagi. Gak perlu perlu ada
read more
Nuga Life

Cobek Sachet

Isteri saya sekarang sudah berubah. Ia tidak lagi menjadikan dapurnya sebagai rumah resto  tradisional. Sudah bergeser ke resto siap saji. Telah meninggalkan petuah  yang sejak ibu dan nenek saya lambat merayap. Sejak persiapan bahan sampai
read more
Nuga Forum

Puisi Imaji Si Hasyim

Saya tahu hasyim ks itu sosok kerinduan. Sepanjang hari kemarin saya menerima empat panggilan telepon dan lima sapaan di whatsapp sehari setelah tuilisan “mesin tik hasyim” up. . Semuaya wa..wa..wa.. Bercerita tentang lelaki kurus berambut
read more
Nuga News

Belukar Feature

Saya punya alasan menolak untuk mewejang materi “feature” di sebuah klas penulisan milik seorang teman di kawasan bintaro, sabtu pekan lalu. Asbabul.. penolakan itu sah. Saya tahu diri. Bukan seorang penulis feature yang baik. Hanya
read more
Nuga Tokoh

Mesin Tik Hasyim

Malam tadi saya didatangi mimpi yang sangat menyentak. Mimpi seperti gambar hidup. Tentang seseorang yang telah jadi penghuni langit. Isi mimpi itu saya taklimatkann kepada banyak teman sebagai bukan hanya sekadar bayangan. Tapi sebagai roh
read more
Nuga Forum

Harap Harapan

Di dua hari terakhir awal ramadhan ini ia sering  menelepon saya. Bisa dua kali dalam satu hari. Menanyakan kabar macam-macam. Yang selalu saya jawab: baik… dan … baik..,,. Bukan baik-baik.. Dan ketika saya balik bertanya
read more
Nuga Tokoh

Fikri Jufri

Selama sepuluh tahun terakhir saya sulit menemukan jejaknya di pemberitaan. Bahkan di media sangat prestise yang ia besarkan dan kemudian beranak pinak juga gak muncul seputar aktifitasnya. Berlainan dengan teman “seperguruan” sekaligus teman seperjalanan dalam
read more
Nuga Tekno

Khutbah Nomophobia

Kemarin siang saya jum’atan di masjid al azhar. Di grandcity summarecon, bekasi utara. Letaknua bersebelahan dengan sekolah islam al azhar. Dalam satu komplek. Anda mungkin lebih tahu, al azhar itu, kini. merupakan sekolah islam elitis.
read more
Nuga Forum

Skeptis Aja

Saya tak ingin berdebat panjang. Hanya skeptis aja. Skeptis sejak awal gaduhnya pencalonan, kampanye hingga terpilihnya pemimpin negeri setengah federal complang nun di ujong sana di arah mata angin barat. Federal complang yang isi dalamnya
read more
Nuga Sehat

Manula Insomnia

Insomnia. Saya tahu itu. Penyakit. Sering akut. Kesulitan tidur. Banyak menjadi keluhan. Tidak hanya orang seusia saya. Manula tujuh puluhan. Tapi juga dialami oleh yang muda-muda dan muda-muda lagi. Sulit tidur, adalah masalah yang memengaruhi
read more
1 2 3 4 5 6 … 1,016
Page 4 of 1016