close
Nuganomics

Muji, Benci dan Rindu….

Saya gak peduli ngomongan mereka tentang si menteri “koboi” itu Menteri yang trendingnya ampuunn..trending itu.

Ngomong mereka tentang sang menteri sudah ngelantur kemana-mana.Entah sudah ke langit ke empat belas. Lapis berlapis. Beranak pinak tema….

Ada yang muja, muji, benci, rindu dan sebagai… dan sebagainya….

Mereka dari akademisi, pengamat dan entah apa lagi. Mungkin juga ada pengangguran, Seperti saya. Yang ada cecunguk. Cecenguk yang otaknya serang. Bak sebuah kampung: kampung serong.

Kampung yang pernah bisa diluruskan.

Dari sisi disiplin ilmu mereka beragam. Ada professor ekonomi yang menyapa setiap orang sebagao boss. Ada juga pengamat yang ngaku sebagai peneliti.

Ada juga yng gurubesar salah tempat duduk…..

Anda bisa bayangkan ramainya. Gaduh. Semuanya menonjolkan kompetensi sebagai orang yang harus didengar. Bukan yang perlu di dengar.

Beda yang harus dan perlu di dengar itu ekstrim. Yang bermazhar “harus” ngototnya ampuunn… Maunya menang sendiri. Memotong bicara bak parang tumpul.

Sering  mengambil alih kendali dari moderator.

Yang bermazhab “perlu” lebih kalem. Tapi acuh. Cuek. Saya melihatnya persis seperti banyak teman di kampung saya. “Mbong.” Sombong di atas sombong.

Yang jenis bisa langsung terlihat dari gesturnya. Gak dari omongannya.

Gestur yang khas. Buang muka sembari senyum tipis ke samping. Saya menterjemahkan gestur ini sebagai cibiran ketika lawan bicara dari mazhab “harus” sedang “on.”

Ngomong-ngomong itu di sebuah lantai menara sebuah grup media kawasan pal merah. Jakarta barat.

Saya datang sebagai tamu gak di undang. Untung gak ada absensi. Kalua pakai daftar abssensi pasti saya di giring keluar ruangan sebagai pesakitan atau buron…

Mereka membahas dari kebijakan serius hingga kebijakan ecek-ecek. Padahal fokusnya hanya sebuah nama: Purbaya…..

Misalnya bagaimana strategi mencapai pertumbuhan ekonomi delapan persen. Sebuah gagasan yang  meliputi penguatan investasi lewat reformasi struktural dan kemudahan berusaha.

Menggoptimalkan konsumsi domestik, pengembangan sektor riil dan pemanfaatan sumber daya domestik

Strategi ini didorong oleh optimisme untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing ekonomi secara keseluruhan.

Selain itu ada strategi  kombinasi investasi yang ditargetkan dan program unggulan seperti hilirisasi industri, program padat karya

Semuanya ini fokus pada efisiensi birokrasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan diversifikasi ekonomi, terutama melalui inovasi dan ekonomi digital.

Pokoknya ekonomi harus tumbuh pesat. Maka ia harus lebih dulu bekerja keras menumbuhkan ekonomi Urusan nya bisa lebih besar.

Saya pernah tahu timeline pertumbuhan ekonomi, negeri ini pernah mencapai delapan koma dua persen. Itu dulu. Tiga puluh tahun silam.

Pertumbuhannya didorong beberapa sektor kunci. Sektor manufaktur, khasnya hilirisasi, industri otomotif, konstruksi, jasa, dan investasi.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga dapat dijaga dengan cara menurunkan nilai incremental capital  output ratio melalui pemanfaatan infrastruktur yang tersedia

Disamping itu peningkatan akses dan konektivitas, serta menyediakan fasilitas pendidikan atau pelatihan vokasi dan program upskilling dan reskilling tenaga kerja yang dibutuhkan

Ya…. banyaknya lah…. Mumet saya dengan diskusi ini… mumetnya datang dari pembicara yang saling menarik otak kami ke otak mereka…

Saya maklum dengan para pembicara. Doktrin mereka boros ngomong di mana pun. Suka mendatang  wartawan bikin pernyataan.

Orang jenis begini memang selalu menjadi bahan breaking news bagi  wartawan seperti saya.

Jenis orang macam saya ini kan  benci pada mereka yang pelit bicara. Maka nya saya termasuk  orang seperti Purbaya.

Akan banyak kalimat yang ”layak berita” –meski itu belum tentu baik untuk ekonomi negara.

Lihatlah gayanya diberbagai tempat. Celingukannya saja bisa celingukan jadi news. Dengarlah ocehannya ketika menjawab soal berapa persen ekonomi harus tumbuh.

Kalau saya berada di posisinya gak akan mau mengucapkan  ekonomi akan tumbuh delapan persen.

Tapi si “koboi” selalu mengulang:”kalau saya bilang tumbuh delapan persen pasti bohong kan?”.

Tentu ada nada seloroh di situ. Tapi siapa menteri yang berani berseloroh seperti nya. Padahal soal delapan persen itu janji presiden yang amat penting.

Jadi, akan tumbuh berapa persen? Ia pun mengucapkan kata enam atau tujuh persen. ka itu pun bagi orang seperti Anda –dan saya– sudah terasa luar biasa hebat. Sekalian titip doa semoga tercapai.

Anda tahu: angka itu tidak mungkin tercapai lewat cara-cara yang standar seperti yang dilakukan selama ini. Harus dengan cara yang berbeda.

Tentu belum ada jaminan “cara baru” itu akan lebih berhasil. Bisa saja justru berbahaya. Bukan saja mundur, malah bisa masuk jurang.

Di masa seperti inilah diperlukan pimpinan yang matang, berpengalaman, intelektual, administrator, teguh, pernah mengalami tempaan dari bawah yang panjang.

Ditambah keinginan yang kuat yang didasari ideologi kebangsaan –bukan hanya didasari pikiran pragmatis-trasaksional.

Purbaya, yang saya tahu, bukan orang yang ingin jadi menteri. Bukan pemain politik. Ia polos. Termasuk tidak risi ketika mengatakan dekat dengan siapa saja.

Politisi terbiasa menyembunyikan sebagian kebenaran untuk keselamatan nasib jabatannya. Purbaya tidak. Justru ia  seperti itu –dengan celetukan apa adanya it

Yang membuat saya waswas: jangan-jangan lingkungannya akan banyak menjegalnya.

Lihatlah sikapnya soal keharusan pajak diperluas dan ditingkatkan: “hanya akan berhasil kalau ekonomi tumbuh”. Itu bisa pertanda jalan baru juga.

“Jalan baru” ekonomi kita kini di tangan “orang yang baru”. Purbaya bukan ekonom sejak lahir. urde sarjana elektro. Arus lemah. Lulusan i-te-be.

Ilmu ekonominya ia peroleh dari dari purdue. Indiana. Bukan dari berkeley atau harvard.

Purdue-lah tempat ia meraih gelar doktor ekonomi. Tanpa lewat program master. “Lulusan  kelihatannya dianggap hebat sehingga langsung program doktor,” katanya di sebuah podcast.

Purdue adalah universitas pedalaman. Di tengah lautan kedelai dan jagung. Yang saya kagumi  iaa ekonom produk kampus di basis pertanian yang berada di mazhab jalan “ekonomi baru” .

Di hari pertamanya Menkeu Purbaya juga sudah dirujak medsos. Tapi Purbaya sudah terbiasa makan asinan Bogor. Bapak-ibunya orang Bogor, sama-sama dosen IPB.

Pernyataan ini seperti peringatan sekaligus undangan: bersiaplah untuk sesuatu yang seru, tetapi jangan salahkan saya kalau ada yang tersinggung!

Dengan humor yang cerdas, ia berhasil membuat banyak orangs penasaran sekaligus sedikit was-was.

Purbaya tahu betul bahwa kata-kata spontannya bisa “berbahaya.”

Ia dengan rendah hati meminta maaf di muka “Jadi kalau nanti ada yang kesindir saya mohon maaf sebelumnya” tetapi dengan nada yang sedikit nakal menambahkan, “Tapi biar aja lah.”

Kalimat ini adalah cerminan dari karakternya: berani, sedikit provokatif, namun tetap menjaga batas dengan humor.

Ia tidak takut menyampaikan pendapat, bahkan jika itu berarti mengusik beberapa pihak.

Sindiran yang ia maksud mungkin terkait dengan isu-isu sensitif yang sering ia angkat, seperti yang pernah ia lakukan dalam konteks Pertamina.

Purbaya dikenal sebagai sosok yang tidak segan mengkritik ketika ia merasa ada yang perlu diperbaiki.

Namun, ia melakukannya dengan cara yang tidak kaku, melainkan dengan gaya yang menghibur dan mengundang diskusi.

Ini adalah seni tersendiri: bagaimana menyampaikan kritik tajam tanpa kehilangan simpati audiens.

Dengan gaya bicara yang khas, ia mengungkapkan, “Nah, ini banyak yang sakit hati  karena hantem sana, hantam sini.’

Saya enggak hantem sana, enggak hantem sini. Saya cuman betulin yang menurut saya harus dibetulin.”

Kalimatnya selalu  menggambarkan dinamika yang seru: sebuah adu argumen di mana ia  memilih untuk tidak tinggal diam.

Namun, ia menegaskan bahwa “hantaman” yang dilakukannya bukanlah serangan personal atau tanpa dasar, melainkan upaya untuk “membetulkan” apa yang menurutnya bermasalah.

Sikap terbuka terhadap kritinya menunjukkan karakter modern dan rendah hati dari seorang pejabat senior yang tak alergi terhadap masukan dari platform yang kerap dianggap remeh .

Meski begitu, ia masih membuka ruang harapan Dan saya tahu hanya orang yang benar-benar kuat yang berani mengakui kelemahannya

Dan mungkin, pelajaran paling dalam dari semua ini adalah—bahwa kita tidak harus selalu kuat untuk bisa dicinta

Tags : slide