Diskusi itu saya namakan “halve kamer.” Meminjam sebuah istilah untuk pertemuan seperdelapan serius. Memperbincangkan tentang negeri yang dicabik banyak masalah.
Maaf…. saya menyebutnya dengan “penjabat gubernur” pemadam kebakaran. Saya punya alasan sangat kuat untuk menyebutnya begitu. Bidang tugasnya sebagai pejabat
Kemarin ia datang mengklarifikasi candaan saya tentang seribu warung kopi di negeri “ideh.” Klarifikasinya saya beri “cap sikeureung/” Sahih. Kesahihannya
Saya mengenalnya. Lebih dari kenal....Kelebihan kenalnya: mengenal ayahnya. Tidak sekadar mengenal nama. Kenal sampai ke cas..cis..cus...-nya. Cas..cis..cus..sangat khas. Khasnya teuku
Pidato infrastruktur itu seperti raib dari lalu lalang toll media. Komentator yang biasanya memburu rente “breaking news” mengendap disemak-semak pilkada.